Akhirnya sampai juga aku di Dubai. Sejak semalam aku menginap di Hotel Fairmont Dubai. Di kamar yang cantik dari ketinggian lantai 23, aku menyaksikan kota Dubai menggeliat di pagi hari. Matahari baru mulai bersinar pukul 7-an. Langit disini pun sejak aku tiba kemarin pagi, belum pernah kulihat biru jernih, selalu kelabu dan penuh asap.
Dubai is amazing untukku yang pertama kali menginjakkan kaki disini. Dimana-mana pembangunan infrastruktur. Gedung-gedung menjulang berlomba untuk dulu-duluan menunjuk langit. Jalan-jalan layang dibangun dimana-mana. Mall seluas puluhan kali lapangan bola juga berjajar di berbagai penjuru kota. Pengunjung seperti kami diberi kemudahan untuk jalan-jalan, dengan disediakan shuttle bus gratis ke berbagai tujuan wisata, terutama mall, dari hotel tempat menginap.
Disini tak terlihat bis umum atau sarana transportasi publik yang massal. Hanya taxi atau bus carteran yang aku lihat. Tapi taxi nya pun sangat nyaman, dilengkapi argo digital lengkap dengan mesin yang mencetak kuitansi pembayaran, serta full musik dengan kualitas audio yang bagus.
Informasi mengenai tempat wajib kunjung di Dubai untuk para pengunjung baru kayak kami juga tersedia di concierge hotel dengan lengkap. Aku biasanya membeli buku Lonely Planet setiap sebelum bepergian menuju ke suatu negara, tapi kali ini tidak. Edisi Dubai yang aku lihat di Periplus rasanya gak menarik untuk dibeli dengan harga yang menurutku terlalu mahal. Mendingan beli buku tentang USA atau Amsterdam dengan informasi yang jauh lebih lengkap, dengan harga yang selisih sedikit. Untung juga gak jadi kubeli, karena di concierge itu aku dikasih gratis setumpuk brosur, guide book, paket-paket city tour yang lengkap dengan peta kota Dubai.
Hari pertama kemarin, setibanya di hotel, check in, mandi dan bayar hutang tidur karena penerbangan 8 jam malam sebelumnya yang bikin gak bisa tidur, barulah sore hari sempat jalan ke Mall of Emirates.
Dan di mall kayak PS dikali 5 luasnya ini, aku kok gak menemukan hal yang cukup menarik selain sarana bermain ski yang sengaja dibangun di kota gurun ini. Brand-brand internasional yang ada disini mencantumkan harga yang rasanya sama-sama saja dengan harga di Jakarta. Setiap lihat angka sekian dirham (dhs) otakku secara otomatis langsung mengalikannya dengan 3600 rupiah. Dan ternyata tetap mahal, padahal sebelum aku berangkat my female friends udah pada heboh titip ini itu. Kata mereka disini tax free shopping yang bisa menekan harga jual barang-barang bermerk itu. Tapi setelah aku sampe sini, kayaknya nggak juga tuh, hmmm aku yang salah tempat atau emang segini ya harga-harganya ?
Namanya juga baru hari pertama, survey dulu lah, jangan keburu nafsu belanja, nanti nemu yang lebih murah nyesek di dompet deh. Rencananya nanti kalau pekerjaan sudah selesai, ingin ikut city tour ke pasar-pasar tradisional. Kalo mall sih rasanya udah cukup kenyang di Jakarta, cuma bedanya disini pake tulisan Arab dan harganya pake dirham aja sih kalo menurutku. Aku lebih suka blusukan ke pasar tradisional dan melihat langsung kehidupan masyarakat setempat bila aku sedang berkunjung ke tempat baru. Lebih menarik dan banyak yang dilihat untuk kemudian ditulis di blog
Sekarang saatnya kerja dulu, persiapan untuk kedatangan main group nanti sore. Aku mau mandi, disini jam 7.56, lebih lambat dari WIB 3 jam. See you later ya…
wuiiii…
so? gimana? banyak yang keren2?
*lu ke dubai tidak dalam rangka shooting ayat-ayat cinta versi 2 kan? kekekke
ass’kum wr.wb.
hi..
salam kenal, nama gw dian.tgl 22 mei ini gw mo ke dubai,gw keterima kerja di sana tapi… ini pertama kali nya gw ke luar negeri, gw nyari peta dubai di google tp gak ketemu? lu bisa bantuin gw g?
thx sebelumnya yah,wass’kum.
dian, mestinya kamu dah di Dubai ya sekarang ? Aku dah balas lsg ke emailmu sejak kamu post comment disini, lengkap dengan petunjuk dan nomer kontak seorang teman Indonesia di sana untuk kamu hubungi kalau butuh bantuan.
semoga emailku masuk ke inboxmu, diterima dengan baik, dan bermanfaat ya, aku hanya menebak-nebak aja karena gak ada jawaban dari kamu.
Good luck untuk hidup barunya di Dubai..
Salam Kenal nama gw Ferdi, tolong peta dubai dong, n kumpulan orang-orang Indonesia yang ada di Dubai. Soale dalam waktu dekat gw mo kerrja di Dubai. Thx sebelumnya.
Mbak , mau nanya2 … bln dpn aku mau ke Dubai , mbak bw dirham dr Indo atau tukar di airport/hotel ? lbh ekonomis mana ? ada tempat istimewa yg bisa diusulkan selain Burj Ar Arab , Jumeirah Beach ? thanks ya !
season greeting,….
hi, nama gw demas cuman mo kasih sedikit opini yang agak objective bout dubai since i’ve been stayed and work in here for at least more than 3years.
there are nothing more interested than the city progress itself since they built dubai more or less 12years ago.even me, got exited when i could come to dxb it has such different atmosphere if u compare it to our motherland INDONESIA but I still proud being son of our nation.
sorry to say but I dont agree with some of ur opinion.yes they developed a lot with building and towers but unfortunately they didn’t have strong fund to support it therefor they borrowed from the government of abu dhabi.forgot to inform u that in UAE they managed they’re own city independently by sheikh’s as the ruler,it’s not centralized to capital city of UAE (abu dhabi).in this case its not so different with our own country. specially since they figure it out that their natural source of oil will be finished at 2015. dubai try to impress the world by their development and sheikh muhammad bin rashid al maktoum says he will make dubai as prime destination for travel and tourism which he built not from the government of dubai it self but from the government of abu dhabi.even the government of abu dhabi took over of the palm island in dubai.well, i wouldn’t be so proud if i’m one of the emirates(local citizen).
u are quite lucky to have a nice taxi,but 90% of the taxi drivers attitude are rude and not polite mostly they refuse to take you if ure not going to go the same direction with the drivers wanted or your destination had to pass some traffic. the drivers are pathan(pakistani)and indian they didn’t equipt themselves with good english language even they played their nationality song which for me, I don’t enjoyed it.
the prices at mall are at the same rate with Indonesia, if you go to gold souk deira or karama u will find traditional market for ur souvenirs.
to tell u the truth to live in dubai is quite costly, for one bedspace it cost 600dhs-800dhs not include water and electricity.one small room it cost 2500dhs – 4000dhs/month(exchange rate 1dhs=Rp3000). for studio room apartment 1bed, 1kitchen, and1 toilet it cost 80.000dhs/year = 240jt which u could get ur own apartment in indonesia with the same price.even next year when they apply tax salary and tax for import items.even the salary a bit more from Indonesia but if ure not smart enough to manage ur finance u’ll be worked here for nothing.
for those who got employed by hotels mostly the management will provide u accomodation.
anyway, dubai is still a nice place to go among other gulf countries.
bon voyage,
cheers…
gw abi,gw pnya cwe dia lg di dubai…..yg mo gw tanyain,pergaulan dubai sma ga kya di korea?free sex…..