Dua minggu terakhir ini saya intensif email-emailan dengan salah seorang adek kelas di kampus, yang mengenal saya ketika mengikuti kelas menulis dimana saya jadi dosen praktisi. Seingat saya ada sekitar 50 mahasiswa yang mengikuti kelas saya waktu itu. Mayoritas adalah mahasiswa angkatan paling gres yang baru saja menikmati kehidupan kampus dalam hitungan bulan saja.
Usai kelas, seperti biasanya saya selalu memberi alamat email saya, untuk mereka berinteraksi dengan saya. Bertanya tentang berbagai hal yang berkaitan dengan tulis menulis, atau apapun tentang dunia kerja alumni komunikasi yang ingin diketahui. Buat saya ruang dan waktu selama dua jam itu tentu saja jauh dari cukup untuk membuat mereka mendapat gambaran yang jelas tentang dunia yang baru mereka masuki itu, dunia komunikasi.
Beberapa dari mereka kemudian meng-add saya di Friendster, dan kemudian mengirim saya email bertanya tentang beberapa hal. Dan saya selalu membalas email-email dari mereka dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan, meskipun kadang pertanyaan-pertanyaan itu lebih bersifat personal, bukan semata-mata tentang menulis dan dunia kerja komunikasi.
Beberapa kemudian menghilang dan tak pernah berkirim email lagi, beberapa masih. Gak ada masalah untuk saya. Dengan senang hati saya ladeni apa yang saya bisa lakukan, itu salah satu kontribusi saya untuk almamater yang sama sekali tak merepotkan. Kalaupun kemudian mereka hilang tak berbekas, ya nggak apa-apa juga, mereka pasti juga sibuk, dan lagi gak butuh saya. Kalo butuh juga pasti nyariin. Santai aja, saya juga punya segudang kesibukan kok.
Nah adek yang intens berkirim email dengan saya belakangan ini saya pikir sedang bingung berat. Beberapa kali emailnya tanya pendapat saya tentang berbagai hal yang dia (sepertinya) sedang hadapi. Misalnya, kalo saya jadi dia manakah yang akan saya pilih, mengambil kesempatan bersekolah di luar negeri beberapa bulan, dan mengorbankan ujian akhir, atau kehilangan kesempatan bersekolah di luar negeri beberapa bulan itu demi ujian akhir.
Belakangan dia bertanya pendapat saya tentang buku The Secret yang emang bikin heboh itu. Dia “bingung” dengan buku itu. Seperti juga kebanyakan orang yang IMHO masih belum siap atau mentah dalam urusan pelajaran hidup, isi buku The Secret itu agak “berbahaya”. Karena bisa mengakibatkan kebingungan dan kegamangan luar biasa, karena seakan membenturkan kita dengan Tuhan. Seakan-akan Tuhan bisa didikte begitu saja untuk mengikuti semua kemauan kita hanya dengan mengucapkan pesan ke alam semesta.
Orang yang dibesarkan dengan nilai-nilai religius yang kental tentu akan bimbang dengan pemahaman baru itu, karena sepertinya bertentangan dengan pelajaran agama yang telah dicekokan ke kepala sejak kecil. Lah jadi kita bisa mendahului Tuhan ya ? Kita bisa mendirect Tuhan untuk melakukan yang kita mau ya ? Kita bisa menciptakan takdir atas hidup kita, benarkah ? Bagaimana dengan kenyataan yang tidak seperti harapan, padahal kita sudah meminta ?
Atau pembaca yang ekstrim, saya lihat di Oprah Show, dia memilih HANYA menerapkan ilmu The Secret tanpa berobat secara medis, untuk menghilangkan kanker yang diidapnya. Dan saya lihat Oprah begitu prihatin dengan cara pandang pembaca nya ini, yang keukeuh tak mau berobat dengan medis, dan memilih hanya untuk menerapkan ilmu The Secret saja untuk menyembuhkan kankernya.
The Secret memang membingungkan buat yang tak cukup punya fondasi dalam pemahaman tentang hidup dan kehidupan manusia di jagad raya ini ( setidaknya menurut saya). Kebingungan yang potensially menyesatkan. Dan saya kira banyak para pembaca awam yang seperti itu, seperti adek satu yang rajin berkirim email pada saya ini.
Dia mempertanyakan pendapat saya tentang konsep yang ditawarkan The Secret. Saya terangkan panjang lebar menurut pemahaman saya, bahkan lengkap dengan berbagai ilustrasi dari peristiwa-peristiwa dalam kehidupan saya yang baru saya pahami belakangan bahwa itu sebenarnya adalah aplikasi dari konsep itu.
Tapi sepertinya penjelasan saya tidak cukup memuaskan adek yang sedang bingung itu. Dia bolak balik mempertanyakan kembali penjelasan saya, dan menunjukan ketidaksetujuannya atas pendapat saya. Bahkan untuk menghighlight dan menekankan pendapatnya, sebagian kalimat itu dia tulis dengan huruf kapital, yang saya yakin dia buat dengan sengaja bukan semata-mata hanya karena capslock button kepencet.
Buat saya, dalam berkomunikasi dengan tulisan saat ini, orang mengirim sms, email ataupun percakapan di YM dengan capslock menunjukan ekspresi si penulis yang sedang marah sehingga dia perlu berteriak untuk menghighlight apa yang disampaikannya.
Terus terang saya heran dengan reaksinya. Bukannya dia tanya pendapat saya, dan saya sudah menyampaikan pendapat saya seperti yang diminta ? Kalo kemudian pendapat saya tidak disetujuinya, ya bukan salah saya dong. Kan dia tanya pendapat saya, bukan dia meminta saya untuk mengatakan apa yang dia ingin dengarkan. Dia butuh pendapat ato hanya perlu justifikasi saja dari apa yang sedang dia rasakan. Sepertinya kebingungan begitu menelikungnya, sehingga menyalahkan orang lain dan keadaan sepertinya jauh lebih mudah daripada menghadap cermin dan bertanya pada diri sendiri.
Kalo saya boleh menganalisa, adek ini sedang bingung menghadapi kenyataan yang tidak sesuai harapan. Karena dia mempertanyakan soal menerima keadaan, dan kemudian menggugat mengenai kenyataan yang tak seperti yang diminta. Gimana sih, aku kan udah minta seperti yang diajarin The Secret, kok aku gak dapet seperti yang kuminta ? Dan kalau aku minta, apakah aku berarti mendahului kehendak Tuhan ? Seputar itulah kira-kira pertanyaan-pertanyaannya, menyiratkan kebingungan yang maha dalam sepertinya.
Mungkin aku tersengat dengan deretan kalimat berhuruf kapital itu, sehingga akupun menuliskan email jawabannya dengan cukup pedas. “Bingung amat sih mau hidup aja, jalanin aja apa yang ada di hadapan sekarang, lakukan yang terbaik, hasil bukan urusan kamu. Tau bedanya orang bodoh sama orang pintar ? Orang pintar mempermudah hal yang sulit, sedangkan orang bodoh mempersulit hal yang mudah.”
Dan saya tekankan bahwa, menyalahkan orang lain atas apa yang terjadi pada kita tidak akan membuat perbedaan apapun dalam hidup kita, kecuali membuatnya semakin buruk..
Mudah-mudahan adek yang sedang bingung itu bisa mahfum dengan maksud saya. Meskipun saya juga tidak berharap banyak. Apa sih yang saya mengerti tentang hidup ketika usia saya 18-19 tahun ? Tak banyak. Hanya segudang ego dan semua hal tentang saya yang harus dipahami orang lain. Perjalanan yang sudah ditempuh belum terlalu jauh, pelajaran yang sudah diserap dari kehidupan juga belum terlalu banyak.
Saya harus maklum bila adek ini masih sulit untuk mengerti. Mengunyah sesuatu itu butuh waktu dan pikiran yang dibuka dengan paksa oleh situasi. Tak bisa dipungkiri pengalaman adalah guru kehidupan yang terbaik. Selamat belajar dan mengunyah ya dek..
Moga2 kakaknya sabar
eh. thank you ))