Ritual ngopi dan brunch saya hari ini dikejutkan oleh running text di Metro TV, yang mengabarkan bahwa aktor dan politisi Sophan Sophiaan meninggal dalam kecelakaan motor di daerah Ngawi Jawa Timur. Saya memang melihat beritanya beberapa hari terakhir mengenai kiprahnya melakukan Tur Merah Putih bersama rombongan pengendara moge dalam rangka Hari Kebangkitan Nasional.
Sophan Sophiaan yang masih tetap bersemangat dan menggebu-gebu di usia nya yang ke-64 tahun. Kumis tebal dan kepalanya yang sudah dihiasi rambut putih tak menyurutkan idealisme yang membara dalam dadanya untuk Indonesia yang lebih baik.
Kegarangan dan sosoknya yang keras hati, nampak kontras dengan kelembutan seorang perempuan cantik yang selalu setia mendampinginya berpuluh tahun, Widyawati. Pasangan yang selalu nampak mesra dan tetap rukun ini menjadi panutan bagi banyak orang ketika dunia selebriti kita diwarnai peristiwa kawin cerai. Keharmonisan rumah tangga mereka yang dikaruniai dua orang putra dan seorang cucu ini seakan menjadi potret anomali dari dunia film yang glamor para pelakunya. Banyak yang mengidolakan mereka, salah satunya saya.
Saya begitu kagum pada mereka yang setia menjaga komitmen pernikahan ditengah pusaran dunia selebriti dan sorotan publik yang hiruk pikuk. Mereka sering menjadi pasangan dalam film-film yang dibintanginya. Sejak film Pengantin Remaja yang mempertemukan mereka hingga film terakhir Love yang baru saja diluncurkan beberapa bulan lalu. Keharmonisan, tatapan penuh cinta selalu nampak di mata pasangan yang abadi ini. Saya melihat mereka benar-benar sebagai soulmate.
Hati saya haru biru melihat Widyawati yang menangis pilu kehilangan belahan jiwanya begitu mendadak. Mereka sedang bersama dalam tur yang baru saja dilepas oleh Bupati Kediri pada pukul 07.00 WIB, semuanya nampak baik-baik saja, kecuali Widyawati yang sedang tak enak badan sehingga tidak berada di belakang sang suami dalam boncengan Elektra Glide kesayangannya.
Tiga jam kemudian, jalan berlubang cukup besar telah menghempaskan macan Senayan yang frustasi ini ke tanah, dan menghembuskan nafas terakhir yang diakibatkan pendarahan di paru-paru dan tulang rusuk yang remuk. Sang aktor yang kharismatik itu telah berpulang ke haribaan Sang Khalik. Membawa serta mimpi-mimpi dan idealisme nya untuk Indonesia yang lebih baik. Seorang sosok yang langka diantara manusia-manusia yang dipaksa untuk menjadi pragmatis di negeri ini.
Takdir Tuhan memang misterius. Semua bisa dipanggil kapan saja waktu yang telah ditetapkan-Nya tiba. Sakit bertahun-tahun, menderita fisik dan menelan biaya milyaran, atau begitu singkat dan mengejutkan. Manusia hanya bisa pasrah dan menerima kehendak-Nya. Belajar ikhlas dan menjadi tabah, pelajaran yang bisa diambil dari setiap kehilangan. Ringan diucapkan, tapi tak mudah untuk dijalani.
Saya berduka untuk seorang Widyawati. Entah bagaimana rasanya mengalami kehilangan sedemikian mendadak, untuk seseorang yang selalu berdua sekian puluh tahun dengan cinta yang mengikat erat kebersamaan mereka.
Untuk cinta dan kesetiaan. Untuk simpati yang mendalam atas kehilangan separuh nafas dan pasangan jiwa, saya dedikasikan posting ini. Selamat jalan Sophan Sophiaan, semoga mendapat terbaik di sisi-Nya.
Keren mbak artikelnya…sayapun ga pernah bosen untuk mengagumi segala cerita tentang keduanya, wuih…ini bukan hanya masalah pelajaran merawat cinta tapi pelajaran untuk menghargai hidup, thanks ya tulisannya jd inspirasi niy buat kedepannya…