Udah dua hari ini saya bolak-balik ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto untuk medical check up. Berhubung tempat saya bekerja ini sangat kental bau militernya, ya sudahlah sekalian saya manfaatkan untuk bisa mengakses fasilitas kesehatan disini, dengan bantuan dr.Astronia yang tergabung di TDK.
Melihat hasil USG nya sudah bisa diduga, dokter bedah tumor yang saya temui menyarankan saya harus menjalani operasi. Weks..langsung pening kepala saya mendengar kata operasi yang membutuhkan berkarung-karung uang itu. Duit darimana hari gini suruh operasi ? Secara status ekonomi saya hampir miskin meski nggak masuk kategori penerima BLT, hehehe.
Tanya kiri kanan, sebagian besar teman menyarankan bahwa saya sebaiknya mencari second opinion. Sahabat-sahabat saya wartawan istana yang baik hati itu menyarankan saya untuk mengkonsumsi bawang putih dan air putih sebanyak-banyaknya. ” Nenden, jangan sampai kena pisau bedah itu tubuhmu, sekali kena, akan menjalar kemana-mana itu penyakit, jangan diutik-utik itu,” kata Kak Novi, wartawan senior Investor Daily itu.
Malaikat saya yang galak tapi penuh cinta itu, menulis dengan capslock di window YM percakapan kami, JANGAN OPERASI. Dan dia memberikan nomer telepon tempat dia berobat holistik di Bogor yang selama ini rutin disambanginya setiap rabu petang. “Bawa semua hasil rontgen mu kesana, telpon, dan minta jadwal periksa bisa kapan,” katanya.
Sudah sembilan tahun ini, sejak saya kuliah di Jogja, memang benjolan itu bersemayam di payudara kiri saya. Dokter-dokter yang pernah memeriksa saya dulu tidak ada yang pernah menyarankan untuk operasi, katanya ini hanya kelenjar susu yang membesar. Saya disarankan untuk segera hamil dan menyusui agar benjolan ini hilang. Tapi untuk memantau perkembangan si benjolan ini, saya memang harus rutin check up.
Sudah hampir empat tahun terakhir ini saya memang alpa untuk melakukan check up. Sampai belakangan ini terasa ada keluhan yang mulai mengganggu. Payudara kiri saya terasa bengkak, ditambah rasa pegal yang menjalar ke sekitar ketiak dan bahu kiri. Akhirnya saya pun mengontak Dr.Astronia yang helpful itu untuk membantu saya medical check up di RSPAD. Dan hasilnya, saya disarankan menyerahkan tubuh saya untuk dibedah. Hiks..
Saya juga ingat mitos (?) yang dikatakan orang tua saya dulu, bahwa sekali tubuh ini kena pisau bedah, maka selanjutnya pisau bedah itu akan menjadi akrab dengan tubuh kita. Penyakit yang telah dibedah itu kemudian akan mengganas dan menjalar kemana-mana. Katanya begitu. Entahlah benar atau tidak. Orang tua saya bukan dokter ataupun yang berkecimpung di dunia kesehatan. Jadi entah darimana juga pendapat seperti itu mereka dapatkan. Anda pernah dengar tentang mitos ini ?
Get well and be recover soon, Nden…
soal disuruh hamil, memang ada penjelasannya, tapi kan lebih beribet jalannya, dan lebih tekor kali
operasilah kalau memang harus. menurut gue, bertanyalah ama tiga dokter. yang berbeda. tanpa bilang ya. gue sih, denagn sejarah para sepupu dan nyokap sendiri, bakal lebih memilih jalur medis saja, setelah itu kontrol yang rutin dan bisa ditambah jalur2 non-medis.
diskusikan dengan Sang Pencipta, dalam do’a dan ketabahan nden. biarkan Dia menjawab melalui hatimu.
tak ada yang lain
satu waktu
hanya kamu dan DIA.
we lha tumor opo mbak yu???
cuma satu ‘Lawan!’…
Lawan penyakit dengan keyakinan kalo kamu bisa sembuh
yang penting usaha jalan terus, ya Do’a juga.
Santai aja ga usah panik, kalo kena penyakit panu sekujur tubuh baru panik… just kiddin’