Sudah dua akhir pekan ini aku habiskan di Bogor. Akhir pekan sebelumnya aku ikut ngerecokin rapatnya tim Dagdigdug di Wisma Tempo, Sirnagalih Mega Mendung Puncak. I was desperately need fresh air. Jadi pas ada gerombolan om-om senang ini pada jalan ke Puncak, langsung pengen ngintil aja bawaannya, hehehe.
Akhir pekan terakhir kemarin ini aku ke Bogor lagi buat berobat ke Perguruan Gerak Badan Bangau Putih (PGB BP), yang direkomendasikan oleh malaikatku yang sekarang hidup sehat itu. Aku ingin mengikuti sarannya karena pada dasarnya aku juga pencinta metode pengobatan ala timur ini. Aku sudah kenyang dengan obat dan suntikan sejak aku bayi. Obat-obatan kimia itu sudah mengendap di tubuhku berpuluh tahun. Cukup sudah.
Teman arisanku, Shifa, kemarin menelpon dan berbagi pengalaman. Dirinya pernah mengalami sepertiku ketika SMA dan memilih tindakan operasi atas saran dokternya saat itu. Apa yang terjadi kemudian, adalah benjolan itu tumbuh kembali persis di sebelah titik yang pernah dioperasi. Dan kali ini dia memilih membiarkannya saja, dengan saran dari dokter lain.
“Itu masalah hormonal Nden, dokterku bilang kalau memang berencana untuk menikah dalam waktu dekat, biarin aja, gak berbahaya kok. Kakakku Nelly dan tante-tante ku juga mengalami ini. Dan setelah operasi memang tumbuh lagi. Kalaupun mau dibuang, ke Singapura aja, dengan biaya yang sama dengan di Indo, disana cukup dilaser tanpa harus dibedah ” kisah Shifa.
Kisah Shifa dan keluarganya semakin memantapkanku untuk menempuh pengobatan non medis ini. Jam tujuh pagi hari Sabtu, aku sudah meluncur dari Jakarta dengan laki tercintaku itu yang memang tinggal di Bogor selama 10 tahun.
Mencari lokasi PGB BP ternyata tidak sulit, arahan dari sang malaikat cukup jelas. Sampai sana ternyata sudah banyak orang yang sedang mengantri untuk diperiksa. Membayar pendaftaran 30 ribu saja, kemudian menunggu untuk dipanggil. Dan ternyata tak terlalu lama, karena di dalam ruang periksa ada dua orang yang memeriksa setiap pasien, jadi pergerakannya cukup cepat dan efisien.
Tiba giliranku, aku disuruh berbaring diatas dipan kayu dengan bantal tipis. Sang suhu berwajah oriental pun memeriksa tubuhku dengan menekan organ-organ dalam di diperut dan dadaku. Weks..seringkali aku meringis dan menjerit kesakitan, dan sang suhu pun mendiagnosa panjang lebar sambil tangannya bergerak dari satu organ ke organ lainnya.
Dadaku sering sesak,kata suhu, karena darahku terlalu kental, sehingga jantungku bekerja lebih keras. Karena itu aku gak boleh lagi minum teh apalagi manis yang kata suhu berakibat mengentalkan darahku.Aku sering pusing kalau kepanasan karena hb ku rendah. Lever ku bekerja lebih berat juga. Tidurku juga kurang baik, karena belakangan memang aku agak sulit tidur dengan berbagai beban pikiran yang sulit enyah dari kepalaku. Lambungku pun perih karena sering minum kopi sebelum makan.
Untuk si benjolan yang bersarang di payudara kiriku, suhu mengharuskanku menjauhi ayam negeri dalam berbagai bentuknya, termasuk telurnya. Hanya boleh ayam kampung. Ikan mas dan lele pun harus kuhindari.Tak boleh makan mie, apalagi mie instan haram hukumnya. Kalo bihun atau kwetiauw masih oke. Banyak makan buah dan sayur, kecuali sayur nangka, jadi bye bye gudeg Jogja. Air putih harus kuminum 2 liter sehari. Sarapan pagi havermouth dengan kismis. Boleh ngopi kalo sudah makan. Ayam negeri yang disuntik hormon itu memperparah si benjolan, apel dan pisang jadi gantinya. Untuk pengobatan awal aku dioleh-olehi serbuk temulawak yang harus kuminum tiap malam dengan madu.
Sejak awal, malaikatku sudah mewanti-wanti, bahwa bila berobat ke PGB BP modalnya cuma satu, telaten. Setelah kesana dan menjalani pemeriksaan, sekarang aku tahu kenapa pesannya harus telaten. Karena pengobatan ini tidak bersifat instan ala kedokteran barat dengan segubruk obat kimia. Pengobatan disini bersifat holistik yang memperbaiki secara mendasar gaya hidup yang selama ini tidak sehat menjadi sehat. Dan perubahan ini tentu saja tidak bisa didapat hasilnya dengan sekejap.
Apa yang kumakan benar-benar harus dipilih dengan sadar, karena setiap makanan dan minuman yang kumasukan ke dalam mulutku akan berpengaruh pada tubuhku. Hal yang sudah kutahu selama ini tapi dengan sengaja kuabaikan demi kenikmatan sesaat yang kurasakan di lidah. Dan inilah hasilnya. Organ-organ tubuhku harus bekerja lebih keras untuk tetap membuatku hidup dan beraktivitas. Kerja keras tentu saja membuahkan keletihan, dan keletihan akan membuat usianya tak sanggup bertahan lama.
I take it positively, Tuhan memberkatiku benjolan di payudara kiriku, sebagai pemicu agar aku kembali ke jalan yang benar. Back on track to healthy life, dan merawat organ-organ tubuh anugerah-Nya dengan baik sebagai wujud syukurku atas hidup yang sungguh berharga.
negesin omongan algooth di tulisan sebelumnya, nden. yakin elu akan sembuh ya…
Mbak, moga tetap telaten dan selalu sehat ya, word create world… u are what u think. Sehat… sehat… dan selalu sehat.
semua hal di dunia itu harus dimulai dengan keyakinan…baik yang benar atau yang salah….
semoga cepat sembuh dan kutunggu undangannya…dinna olivia aja udah lho
wah, elu ter-update ya gooth, dengan dinna
) jangan2 kasih komennya nunggu verifikasi dulu
)
Exactly the same sama aku. aku juga lagi pengobatan ke bangau putih, untuk penyakit yang sama.. Semoga cepat sehat.