Sebuah sms masuk kemarin, menanyakan apakah aku baik-baik saja. Karena dia melihat blogku ini sudah lama ndak di-update. Memang sudah seminggu lebih blog ini tidak kutambahkan posting baru. Selama 6 hari aku memang tidak berada di Jakarta. Menempuh perjalanan darat-laut-udara untuk liputan Latihan Gabungan TNI Tahun 2008 di Sanggatta Kalimantan Timur. Satu-satunya reporter perempuan diantara 27 orang rombongan reporter, camera person dan fotografer, yang berangkat dari tim wartawan istana.
Awalnya ngomel karena satu-satunya reporter laki-laki di kantor menolak penugasan ini,sehingga harus aku yang berangkat. Kata Biro Pers Media Istana, medannya sulit, jadi mereka tidak menerima wartawan perempuan untuk ikut dalam rombongan, tidur di kapal perang dengan fasilitas terbatas. Rekan wartawan lainnya malah bilang, rombongan nanti tidur di hutan. Halah..berbagai informasi yang bikin ciut nyali aku yang sudah menjadi anak metropolitan.
Tapi perjalanan ini ternyata sangat menyenangkan, meskipun melelahkan, dan benar-benar pengalaman yang mengesankan. Perjalanan dimulai dengan udara, dari Jakarta ke Balikpapan yang ditempuh 1 jam 50 menit. Dari Balikpapan kami langsung melanjutkan perjalanan menuju kota Bontang yang kami tempuh selama kurang lebih 8 jam melalui darat. Terasa sangat lama, karena kami berhenti di Samarinda untuk makan duren di pinggir Sungai Mahakam sore-sore, kemudian berhenti lagi untuk menyantap ayam goreng kampung di sebuah warung sederhana, usai tanjakan Gunung Menangis yang memang bakal bikin menangis mobil yang mesinnya tidak fit.
Malam hari tiba di kota Bontang yang kecil mungil itu dengan tubuh-tubuh yang letih. Untunglah aku mendapatkan kamar di hotel terbaik di kota itu.Bukit Sintuk namanya. Satu-satunya hotel berbintang di Bontang yang berada di wilayah komplek Pupuk Kaltim.Sedangkan rekan-rekan wartawan lainnya menginap di Hotel Garuda, hotel melati yang kayak kos-kosan itu.
Keesokan harinya, kami hanya jalan-jalan keliling kota, dan makan ikan serta seafood yang berlimpah di kota ini. Ternyata saya menemukan jejak teman kuliah satu angkatan disini yang telah bekerja sebagai PNS, meskipun akhirnya gak bisa ketemuan sampai hari terakhir saya di Bontang, tapi lumayan sempat ngobrol di telepon dan sms-an.
Diah Bontang, begitu kami di kampus memanggilnya, memang berasal dari Bontang, lahir dan besar di kota ini, karena ayahnya pegawai di PT.Badak NGL. Sungguh kejutan rupanya buat Diah, aku bisa “nyasar” ke kota kecil di Timur Kalimantan itu. Dan Diah sangat menyesal tak bisa menemuiku, karena ternyata bayinya yang sedang sakit, rewel. Dan rumahnya cukup jauh dari tempatku menginap. Sudahlah tak apa, memang belum saatnya bertemu
Pertemuan dengan Diah bisa terjadi karena ada beberapa alumni Fisipol UGM yang bekerja di LNG TV milik PT.Badak NGL. Firman, kameramen SCTV yang alumni Broadcast ‘95 Komunikasi UGM, menemui beberapa temannya disini, yang kemudian berhasil melacak keberadaan Diah, teman ku yang sudah “hilang” bertahun lamanya itu.
Panca, sang teman yang bekerja di LNG TV itulah kemudian yang mengajak kami ber-4, keliling komplek PT.Badak NGL. Sebuah kota di dalam kota. Tak heran karena keberadaan perusahaan ini jauh lebih dahulu dari adanya kota Bontang. PT.Badak ini sudah berdiri tahun 1974 sedangkan Bontang sendiri baru menjadi sebuah kota pada tahun 1999, sebagai pemekaran wilayah dari Kabupaten Kutai Kartanegara.
Kompleks yang sangat modern, dengan lapangan golf, kolam renang, lapangan tenis, bahkan stadion sendiri. Sekolah dari SD hingga SMA. Lapangan terbang sendiri meskipun terbatas untuk pesawat-pesawat kecil sekelas Dash 7. Rumah-rumah karyawan yang tertata rapi dengan penjagaan maksimal. Semua fasilitas untuk kehidupan sehari-hari karyawan dan keluarganya tersedia dengan lengkap.
Kami pun diajak menengok ke kilang pengolahan, tempat memproses gas menjadi cair, dikapalkan dengan tanker-tanker yang telah disiapkan, langsung ke Jepang dan Taiwan, dari Pelabuhan Khusus. Cuaca sangat panas terik, dengan langit yang biru cerah. Bontang membuat kami bolak-balik kehausan, dan segera mencari pendingin udara untuk ngadem. Maklum matahari disini dua, hehehe..
Malamnya, kami makan ke Bontang Kuala. Bagian kota yang dibangun diatas laut. Rumah-rumah yang didirikan diatas kayu-kayu penyangga, membentuk perkampungan yang terlihat mengapung. Kompleks ini terlihat cukup luas, dengan jalanan yang juga terbuat dari kayu, dan hanya bisa dilalui motor dan sepeda yang menciptakan sebuah musik yang unik karena gemeretak kayu yang terlindas ratusan motor dan sepeda itu. Mobil ? Parkir di pintu masuk perkampungan saja.
Jalanan dari kayu ini berujung pada banyak restoran yang menghidangkan berbagai masakan hasil laut.Ikan putih, cumi, udang, lengkap dengan berbagai jenis sambal yang memanaskan lidah. Kami memilih Restoran Anjungan Indah untuk menikmati akhir pekan di Bontang ini.
Sebagian besar rekan wartawan tersesat ke bagian lain dari perkampungan, dan harus berputar mencari jalan kembali, karena restoran satu sama lain tidak terhubung oleh jembatan. Omelan panjang pendek lengkap dengan keringat dan nafas terengah-engah, membuat para pekerja media itu makan dengan lahap dan kalap.
Suasana akhir pekan membuat perkampungan itu ramai. Dimana-mana terlihat pasangan anak muda yang menikmati malam. Bulan nyaris penuh di langit yang cerah, dengan irama ritmis debur ombak memecah pantai. Dihiasi angin laut yang membuat saya semakin merapatkan pashmina merah yang membalut tubuh, perpaduan yang sempurna untuk mendadak kangen pangeran Dayakku itu.
Laut , bulan, dan keheningan yang menyeruak diantara hiruk pikuk itu, membuatku tersudut dalam rasa rindu yang sangat. Lelaki tercinta itu sedang berada di bumi Kalimantan juga saat itu, tapi di beratus kilometer jaraknya dari tempatku berpijak..
salam kenal ya…bravo..hebat
mode kangen bontang = ON