Sudah dua hari ini saya menikmati suasana kehidupan kantor baru. Ruangan yang terang benderang dengan kaca di sekelilingnya, dan pemandangan lepas menatap langit Jakarta yang pekat oleh polusi dari lantai 31, serta suasana kantor yang hiruk pikuk oleh ratusan orang yang berkutat di kubikalnya masing-masing. Atmosfir baru yang sudah lama tidak saya rasakan.
Hari pertama masuk kantor yang membingungkan karena ketatnya sekuriti, lebih ribet daripada masuk Istana Presiden rasanya. Untuk masuk di lobi sudah dicegat satpam untuk diperiksa tas, melewati detektor logam, kemudian harus meninggalkan identitas untuk mendapatkan kartu akses masuk, karena pintu tak akan terbuka tanpa kartu magnetik tersebut, dan kita pun tak bisa nebeng orang lain yang punya kartu untuk masuk, karena tiap kartu di desain hanya bisa untuk membuka pintu bagi satu orang saja. Tak heran terjadi antrian panjang usai makan siang untuk bisa masuk kembali ke kantor, karena pintu hanya bisa terbuka satu demi satu.
Begitu juga ketika masuk lift, untuk bisa memencet angka 31 saya harus menggunakan kartu magnet itu, sama halnya untuk membuka pintu utama kantor yang sementara belum bisa dilakukan karena kartu ID karyawan milik saya belum jadi. Ribet karena saya belum terbiasa saja. Namanya juga gedung modern dengan pengamanan yang canggih dan serba otomatis, tanpa perlu mengerahkan sepasukan tentara untuk menjaganya.
Laptop baru saya merknya Acer Aspire 4315, spesifikasi yang tentu saja sangat jauh dibawah Fujitsu Life Series yang saya gunakan di kantor lama. Ditambah plesetan dari seorang teman lama yang bekerja di sebuah perusahaan komputer yang mengatakan bahwa Acer itu kependekan dari Agak Cepat Rusak hehehe. Terserahlah, saya gak peduli.
Dikasih laptop pun sudah syukur, lagipula untuk seorang editor seperti saya memang tak perlu laptop yang canggih.Toh tools yang saya gunakan juga terbatas hanya untuk mengedit tulisan dan foto. Saya bukan gadget freak yang mengagungkan peralatan harus ini atau itu, the most important thing buat saya adalah “man behind the gun”. Brain atau orang yang menggunakan peralatan itulah yang lebih penting untuk menghasilkan karya yang maksimal.
Diskusi yang hangat kemarin terjadi di kantor baru ketika salah satu petinggi di perusahaan ini berkunjung. Setelah menyimak presentasi dari tim mengenai perkembangan terakhir dari persiapan yang sedang dilakukan, sang petinggi yang sedang rajin beriklan di media massa untuk mengenalkan diri ini pun membuka ruang untuk tanya jawab. Namanya wartawan dikasih kesempatan begini tentu saja tak disia-siakan. Terjadilah forum yang gayeng karena kami bisa mendengarkan langsung pemikiran-pemikirannya, mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis yang dijawab dengan tangkas dan tuntas.
Suasana diskusi seperti ini yang saya rindukan dari sebuah kantor. Proses pertukaran ide, mengupas sebuah isu dari berbagai sisi, semua orang mendapat kesempatan yang sama untuk menyampaikan ide, bertanya dan mendapat tanggapan. Setara dan cair. Soal sepaham dan tidak itu soal lain, tapi yang jelas terjadi sebuah forum dialog yang membuka cakrawala berpikir semua orang yang terlibat. Bukan hanya sebuah monolog yang berisi perintah atasan pada bawahan. Dengan tongkat komando yang bersifat sakral dan tak terbantahka khas birokrasi dengan sentuhan kental kultur militer.
Saya merasa hidup dan bergairah lagi. Otak saya sekarang tergelitik untuk kembali aktif menelurkan ide-ide kreatif. Ada ruang yang disajikan ke hadapan saya untuk diwarnai dan dieksplorasi. Meskipun saya bukan manusia yang pintar-pintar amat seperti para pemenang beasiswa Fullbright itu tapi saya menyadari bahwa ketika otak kelamaan tak terpakai itu berbahaya juga. Saya jadi ingat GM mengatakan dalam obrolan ngopi sore hari di Cikini, bahwa saya ini katanya kategori half bright saja hehehe. Tapi meskipun half bright tetap harus segera dilakukan upaya penyelamatan sebelum mengalami malfungsi karena terlanjur beku hihihi..
Ah senangnya menemukan kehidupan saya kembali..Saatnya berkarya dan memberikan yang terbaik atas anugerah yang telah diberikan-Nya ini, tentu saja untuk hidup yang lebih bermakna. Selamat berkarya Nenden !
Excitement-nya kerasa ampe sini….. big congrats!!!
congrat nden
*btw, oleh2 gw mane? *keukueh hihihi
darling
congrat ya -hug-
i’m gonna miss you …
success for you my dear
mwah mwah
wah,,,mbak nenden kok pindah kerja??? ada apa nich?? merasa idealismenya terkungkung di tempat kerja yang lama yah??
semangat Mbak!!! Hidup kan pilihan!! Dont Forget, your passion is writting. So, selama masih menikmati tanpa halangan dari orang laen rasanya worthy aja!
@ Yoen, thanks a lot..just wondering are you Yuni my college friend yang kerja di BNI ?
@ Valencia18 or Anti, pakabar dek ? it’s not about idealism. Kalo soal itu sih dari awal sebelum memutuskan untuk bergabung sudah sangat disadari, there’s no space for idealism there. It’s about missing my normal life. Postingnya ada di blog satunya http://mypastpresentandfuture.blogs.friendster.com/mypastpresentandfuture/2008/08/hidup_normal_it.html
@ edo, oleh2 ada dunk masih gw simpen majalahnya, tapi barter sama siomay langsat 2 porsi yah hihihihi..kangen sama enaknya
@atta darling..kangen juga sama anak2 istana, semoga tetap sehat dan semangat plus makin lucu untuk menjaga kewarasan hihihihi..buku fiksinya kalo dah terbit kabar2in ya Ta, akyu yg pertama beli
Nop! teknik investigasinya salah neng.. i ain’t that Yuni…
oya, one thing about the palace… just prepare aja.. that you gonna miss the crowd not so long time to go
All in all: *”Change is Good ya, neng?”*
I am happy to learn from the lines of paragraph on your blog, this would means that my change and its effort to make it materialized should be intensified soon.
Great to have found your blog and kind regards from West Africa.
Selamat,
Kanal one kah?
sukses selalu
if i can make it there i can make it any where…..(frank sinatra)