Indonesia merayakan ulang tahunnya yang k-63 tahun ini. Seperti tahun-tahun sebelumnya, upacara dan berbagai keriaan digelar untuk merayakannya. Ritual yang sama. Tak ada perubahan yang signifikan selain pesta tahunan dan pengingat disana sini mengenai makna kemerdekaan. Para veteran diundang ke Istana Merdeka untuk mengikuti upacara peringatan detik-detik proklamasi, dilanjutkan dengan acara makan siang, dan setelah itu kembali dilupakan, hingga datang tanggal 17 Agustus tahun berikutnya. Selalu seperti itu.
Satu hal yang berubah kali ini. Saya tak lagi menjadi bagian dari hiruk pikuk perayaan HUT RI di Istana. Tahun ini saya melaluinya dengan acara sendiri, yang merupakan tonggak penting dalam kehidupan saya. Saya pindah rumah. Akhirnya saya berhasil memiliki tempat sendiri yang bisa saya sebut rumah dalam arti sesungguhnya. Sebuah rumah yang utuh dengan bagian yang lengkap untuk saya merajut hari dengan semestinya sebagai seorang manusia dewasa.
Ketika rekan-rekan wartawan Istana sedang sibuk di Istana mewawancarai anggota Paskibaraka tahun ini, mengamati siapa saja tamu penting yang hadir, dan pakaian apa yang dikenakan mereka, saya sibuk mengangkut barang dari kamar kos saya di Petojo menuju rumah baru saya di Tebet. Kerepotan yang saya lakukan dengan senang hati.
Semua ini seperti mimpi rasanya. Rumah yang saya idamkan sejak lama, bersih, nyaman, dan di lokasi yang strategis. Memang tak ada yang kebetulan, seperti yang telah saya percayai sejak lama. Saya sadari ini telah menjadi skenario-Nya. Hanya saya saja yang selama ini tak sabar, dan tak mengetahui rahasia dibalik segala kesulitan dan hambatan yang saya alami. Bersamaan dengan kepindahan saya ke kantor baru,saya mendapatkan rumah ini yang secara lokasi lebih dekat ke kantor baru saya di bilangan Dr.Satrio.
Bak menerima durian runtuh, ketika sahabat saya sejak SMP menelpon,dan menawari saya untuk meneruskan sewa rumah yang dia tempati, karena kantornya pindah ke Kemanggisan, sehingga dia pun harus pindah ke daerah sana. ” Jauh banget kalo ke Kemanggisan dari Tebet, Nden,” ujarnya. Tanpa berpikir dua kali saya pun langsung mengiyakan. Sudah dari dulu saya mengincar lokasi di tempat tinggal sahabat saya itu, cuma saat itu saya pikir terlalu jauh dari kantor saya di Istana Presiden. Saya hanya akan mempersulit diri sendiri, secara saya saat itu masih berstatus sebagai manusia panggilan, alias kacung 24 jam.
Memang seperti orang bilang, kalau jodoh gak kemana, akhirnya rumah disini berhasil saya dapatkan juga. Saatnya belajar masak, dan menyalurkan hasrat menata rumah yang selama ini terpendam. Saya ingin memanjakan perut dan lidah lelaki tercinta dan anak-anak kami dengan masakan racikan saya sendiri. Karena saya suka iri dengan teman-teman saya yang dengan bangga mengatakan bahwa mereka rindu masakan ibu mereka rumah.
Saya tidak punya pengalaman itu, karena ibu kandung saya di Bandung tak suka memasak, dan tidak pernah menganggap penting namanya ritual makan bersama duduk di meja makan, kecuali bulan puasa. Ibu yang suka memasak untuk saya adalah mama, ibu angkat saya almarhum di Jogja, yang masakannya enak, dan selalu bertanya, ” Nenden mau makan apa ?”, dan kami selalu duduk di meja makan untuk makan bersama minimal sekali sehari. Seandainya mama masih ada tentu saya akan berguru memasak padanya saat ini.
Lelaki tercinta itu juga menyukai rumah pilihan saya ini. “Enak, bersih, nyaman, nice place,” katanya ketika pertama kali melihat rumah ini. Dia pun sigap berkeringat turut repot membawa barang-barang saya yang segambreng itu dengan mobilnya. Senangnya saya memiliki rumah yang bisa menerima tamu.Saatnya menata ruang duduk yang nyaman, agar sahabat-sahabat dan orang-orang tercinta itu bisa betah berkunjung.
Hal yang lebih membahagiakan adalah ketika saya menyadari bahwa kali ini saya mempunyai tujuan yang lebih jelas dalam hidup.Ini bukan hanya sebuah rumah, tapi sebuah langkah besar dalam hidup saya, yang menandai tujuan saya dalam hidup yang sibuk ini. Sekarang saya tahu untuk apa saya bekerja tiap hari hingga malam. Saya merasa ajeg dengan hidup saya saat ini, dan berdiri diatas rel yang menuju ke sebuah titik yang saya pilih dengan sadar.
asyiiiikkkk…..ada yang punya rumah baru!! Besok bawa bantal , mau numpang nginap ya mbak!! fasilitasnya apa aja nich?? mandi aer hangatnya ada khan?! hahahahaha……
so?
kapan masak nden?
walaupun dengan rasa khawatir, gw memberanikan diri deh sesekali jadi tester masakanmu.
tapi, mungkin lebih baik setelah lelaki tercintamu mencobanya. so, kl ada apa apa, gw aman kekekekke…
selamat datang dirumah baru nenden…
edo gila hehehe…, tengkyuuu ya bro..
Wah,,,artikelnya bagus bgt…..
Semoga sukses…..