Pertemuan “kebetulan” di YM beberapa hari lalu dengan seorang teman dari jauh membuahkan janji makan siang di akhir pekan ini. Seorang teman yang sudah dua tahun tak berjumpa, dan ini pun merupakan perjumpaan kami yang kedua. Dina Martina namanya. Dia seorang teman yang kukenal dari perjalanan dinasku bersama Sang Presiden yang paling fenomenal. Aku mengenalnya di belahan bumi yang lain, kota Havana-Kuba.
Mbak Dina adalah staf KBRI Havana yang mengurusi kunjungan kami di kota itu September 2006. Dari sekian perjalanan luar negeri yang kulakukan selama meliput kegiatan Presiden, baru Mbak Dina lah orang KBRI yang kemudian menjadi teman baik yang berlangsung hingga sekarang. Aku sendiri takjub, akhirnya ada juga orang Deplu yang punya kepribadian yang hangat, tulus, dan rendah hati, yang membuatku luluh dalam respek dan kekaguman.
Sungguh untuk anda yang tak pernah berurusan dengan para diplomat Departemen Luar Negeri RI, mungkin menganggap pernyataanku diatas itu hiperbola. Tapi cobalah sekali saja berurusan dengan mereka, apalagi berkali-kali, mungkin anda akan segera mengamini apa yang kutulis diatas. Entahlah apa yang ada di kepala para diplomat itu, tapi yang jelas kelakuan mereka itu seringkali bikin aku muak, dan malu sebagai WNI.
Sifat arogan, merasa sebagai manusia paling penting sedunia, si manusia super cerdas dan negosiator ulung, membuat sebagian besar diplomat muda mengangkat kepala tinggi-tinggi dan tatapan yang seakan menyiratkan, “elo siape ?”. Para diplomat yang level menengah kelakuannya tak kalah nyebelin. Culas, manipulatif, tak sungkan menginjak rekan dan bawahan, jilat pantat atasan, jago cari muka dan pintar untuk cari peluang tampil demi promosi jabatan. Sedangkan para diplomat tua gila hormat dan mabuk kekuasaan. Mereka harus disembah dan harus selalu berjalan diatas karpet merah. Kekecualian untuk Pak Ali Alatas.
Maafkan kalau aku sulit untuk menuliskan kalimat-kalimat indah tentang mereka di posting ini, karena memang tak banyak kesan baik yang tertinggal tentang para diplomat Deplu ini di kepalaku. Mbak Dina yang sudah selesai masa tugasnya di Havana dan sekarang menjadi bagian dari Ditjen Amselkar di Jakarta ini memang super kekecualian dari para mahluk Deplu yang arogan itu. Aku angkat topi dengan semangat pengabdian dan pelayanan publik yang dilakukannya. WNI di Havana sangat kehilangan staf KBRI yang menjadi panutan dan tempat mereka berpaling untuk setiap masalah, juga sahabat terbaik yang memperlakukan mereka sebagai keluarga.
Aku menerima surat dari Pak Widodo dari Havana, yang sekarang sudah resmi menjadi WNI itu, mengenai kesannya tentang kehilangan seorang Dina Martina yang bersahaja dan penolong itu. Bila para diplomat Indonesia itu seringkali sulit dimintai tolong WNI yang membutuhkan bantuan di negara tempat mereka bertugas, padahal gaji rakyat Indonesia lah yang mereka makan ribuan USD tiap bulannya itu, Mbak Dina adalah anomali dari kelompok itu.
Kami menghabiskan siang hingga sore ini dengan segudang cerita tentang Havana, Kuba, orang-orang yang kami kenal, kegeramannya tentang sistem rekruitmen pegawai baru di Deplu yang dinilainya mengabaikan penilaian tentang moralitas dan karakter. ” Memang bagus menerima orang-orang pintar lulusan berbagai universitas terkenal lokal maupun dalam luar negeri, tapi seharusnya karakter juga menjadi bahan pertimbangan dalam proses seleksi. Pintar tapi moralitasnya rendah, dan karakternya sulit bekerjasama, tinggi hati, untuk apa ?” gugatnya.
Ya, dia pantas kesal, karena pengalamannya bertahun -tahun harus bekerjasama dengan orang-orang yang merupakan hasil proses seleksi yang gagal dan sangat kental dengan nuansa nepotisme itu. Bagaimanapun para diplomat adalah ujung tombak diplomasi RI di luar negeri sekaligus menjadi wajah Indonesia di dunia internasional. Karakter mereka menjadi cerminan karakter orang Indonesia, yang katanya santun, penolong, ramah, rendah hati dan terbuka.
Aku cukup kenyang berurusan dengan para diplomat itu bila sedang bertugas liputan luar negeri bersama Presiden. Seringkali tangan ini gatal pengen melayang, dan mulut ini tak tahan untuk mengumpat. Duh untung aku masih berhasil menaikkan derajat kesabaranku hingga tak meledak di muka umum. Sikap meremehkan, dan etika yang nol sering sekali membuat darah mendidih, seperti yang pernah kutulis di blogku satunya tentang pengalamanku berurusan dengan seorang diplomat korslet yang sakit jiwa.
Aku sebagai WNI sangat prihatin dengan kondisi ini, ketika wajah-wajah kita orang Indonesia, diwakili oleh manusia-manusia bermoral rendah seperti itu di dunia internasional. Alangkah memalukannya.. Segudang kisah lain tentang kelakuan ajaib para diplomat itu juga aku dengar dari para kolega, teman dan sahabat, yang memiliki pengalaman buruk dengan pelayanan dan sikap mereka terhadap sesama warga bangsa yang seharusnya mereka layani, karena memang untuk itulah mereka dibayar negara.
Tapi cukuplah kusimpan sendiri, karena aku ingin mendengar kisah anda yang mungkin punya pengalaman serupa dengan para diplomat kita. Entah yang baik maupun yang tak terlupakan karena menorehkan luka atau kekesalan di hati. Meskipun besar harapanku untuk lebih sering mendengar kisah baik tentang mereka. Tapi selama proses seleksi masih harus dengan prosedur titip sana sini, sogok kanan kiri, abai pada penilaian moralitas dan kesehatan jiwa, rasanya harapan ini akan tinggal harapan.
Semoga sikap rendah hati Dina Martina menulari pula diplomat2 lainnya.
Salam kenal mbak Amila, sekantor yach dgn Pak Busyra?
untunglah, orang KBRI yang aku tahu adalah kakak yang super menyenangkan, dan bisa langsung klik dalam waktu singkat…
[...] Kemarin, delapan tahun kemudian, tingkah polah para diplomat Deplu dibahas dengan tajam oleh Tamansari di sini. [...]
Hi, aku mo nanya nih. kebetulan aku lagi ada di Kanada untuk 2 bulan trus ada yang mo ngajakin ke kuba sekitar seminggu atau 2 minggu gitu bulan depan. Tapi aku nggak ada visa untuk ke kuba sekarang. Gimana cara apply-nya yah? apa bisa apply visa di kedutaan kuba di kanada? trus susah nggak sih?
trus gimana dengan petugas imigrasi di kuba pas kita sampai di airport sana, apa cukup welcoming sama turis dari indo? tolong infonya ya. thanks.
@Paswell, aku dah jawab langsung ke emailmu ya..have nice trip to Kuba, I do envy you deeeeeh…
Tk sgja gw prnh ntn film sicko,.
Nyritain ttg perbedaan plyanan kshtan d AS,Prancis,Canada,Kuba.
Gw salut sama Kuba.
Wlpun di kucilkan oleh negara2 maju.
Tp plyanan kshtan top abis.
Smga indonesia bsa sprti kuba.