Headline Kompas Minggu (31/08) yang aku baca hari ini adalah “Lebih dari 40 Juta Orang Tonton Pidato Obama”. Aku adalah salah satunya. Hari Jumat aku ijin pada bos untuk bisa datang lebih lambat satu jam karena ingin menyaksikan pidato Barrack Obama dalam penerimaannya secara resmi sebagai kandidat Presiden AS dari Partai Demokrat di Denver, Colorado yang disiarkan secara langsung oleh Metro TV Jumat (29/08) jam 8 pagi. Sayang tak ditayangkan dengan tuntas hingga pungkas, karena Metro TV memutusnya tepat pukul 10.00.
Aku menontonnya bukan hanya karena terkait pekerjaan, tapi karena memang menantikannya. Figur yang fenomenal dan menjanjikan harapan baru yang lebih baik untuk Amerika dan tentu saja pengaruhnya untuk seluruh dunia.
Untuk pertama kalinya aku terpaku menonton pidato seseorang di depan televisi tanpa beranjak, mendengar kata demi kata yang diucapkannya. Memperhatikan gestur dan mimik wajahnya. Menatap tak berkedip ketika matanya menghadap kamera, melihatnya seakan berbicara langsung padaku, dan menyampaikan pesannya ke kepalaku dan menggugah hatiku.
Aku bukan warga Amerika, dan rasanya aku tak akan pernah melepaskan statusku sebagai WNI meski nanti mukim di Amerika hingga hari tua. Tapi saat itu dan tanggal 4 November nanti, aku bermimpi seandainya aku adalah warga negara Amerika dan bisa memilihnya sebagai Presiden. I wish I could say..He’s My President.
Pidato selama 45 menit tanpa teks itu benar-benar menggugah. Menggelorakan semangat, menancapkan harapan. Mengangkat pesimisme dari dalam diri untuk kembali berdiri menaklukan tantangan. Menyentuh hati setiap pendengarnya bahwa ini adalah bukan tentang dia, tapi tentang kita semua.
Tak heran bila semua yang berada disana tak henti-hentinya melakukan standing ovation menyambut setiap kalimatnya. Aku sampai merinding menyaksikannya, dan seringkali turut bertepuk tangan meskipun sendirian. Ah seandainya aku ada disana dan melihatnya langsung.
Mataku turut berkaca-kaca seperti 84 ribu orang yang mendengarkan langsung di Invesco Field, Denver. Tak bisa dipungkiri dia adalah orator ulung. Setiap kata yang meluncur dari mulutnya mengandung sihir yang membuat pendengarnya tak ingin berpaling, dan menunggu rentetan kalimat berikutnya.
Ungkapan yang keluar dari pikiran yang cerdas. Suaranya dalam dan berat. Jiwa mudanya memancarkan semangat dan energi positif akan optimisme. Tak ada keraguan, tak ada lirikan mata yang berusaha mencuri pandang pada teks di hadapan. Tubuh dan tangannya bergerak secara alamiah, tak terkesan dibuat-buat atau teatrikal sebagai bagian dari aksi kehumasan.
Aku pun mengunduh teks pidatonya secara utuh dari BBC. Kuperhatikan setiap kalimatnya, dan aku masih bisa merasakan semangat, energi positif dan harapan disana. Ada rasa sedikit nelangsa dan prihatin terselip dalam hati. Kenapa aku tak merasakan hal seperti ini terhadap Presiden ku sendiri ? Apalagi para calon Presiden yang saat ini sedang gencar beriklan di TV-TV. Takada yang berhasil membuatku mau meluangkan waktu untuk mendengar apa yang mereka katakan. Karena jujur aku muak. Aku tak percaya lagi dengan apa yang mereka katakan. Jualan kecap nomor satu.
Lelaki tercintaku mengatakan bahwa rakyat negara ini belum siap dengan orang seperti Obama dengan pidatonya yang brilian itu. Dia membandingkannya dengan analogi dua kelompok penonton antara musik klasik dan dangdut. Orang Indo ini penonton dangdut, bukan penonton musik klasik. Jadi memang belom sampai tingkat berpikirnya, untuk kebanyakan masyarakat Indonesia yang masih bermasalah dengan terbatasnya pendidikan yang bisa diakses.
Tapi aku tak sepenuhnya setuju. Ini bukan soal penontonnya. Ini soal siapa yang berbicara. Bagaimana bisa tergugah dan menjadi bersemangat, bila pidatonya begitu membosankan sehingga membuat pendengarnya tertidur dan memilih mengobrol sendiri ? Para wartawan pun selalu kebingungan untuk mengutip isi dari pidatonya, karena seringkali hanya pengulangan yang sudah basi dan disampaikan di begitu banyak kesempatan. Media pun kehabisan ide untuk menjadikannya headline.
Tapi bukannya introspeksi, yang ada malah marah-marah menyalahkan orang lain. Sekalinya pidato tak menggunakan teks, yang ada malah melantur kanan kiri semakin tak ada isi. Jatah waktu 10 menit bisa menjadi berlipat dua dan tak ada orang yang berani mengingatkan.
Rakyat Indonesia yang penonton dangdut ini aku yakin akan duduk dan mendengarkan bila memang si pembicara itu memiliki kapasitas untuk itu. Pesan yang diutarakannya jelas, dan disampaikan dengan pembawaan yang menarik perhatian tanpa harus dipaksakan. Aku jadi teringat rakyat Indonesia tahun 60an yang rela berkumpul beramai-ramai di dekat sebuah radio hanya untuk mendengarkan pidato Bung Karno.
Bagaimanapun aku percaya akan kekuatan kata-kata. Entah kata-kata yang ditulis para penulis hebat melalui buku-bukunya, atau para pembicara publik dalam seminar-seminarnyaya, maupun para tokoh yang berhasi memukau pendengarnya melaui pidato-pidatonya.
Intinya adalah soal ketulusan dan pesan yang mengena. Kita butuh suntikan optimisme untuk menjalani hidup yang kian sulit. Kita ingin mendengar kalimat-kalimat yang menginspirasi untuk berbuat lebih baik dan bangkit dari keterpurukan. Kita perlu lantunan semangat untuk menggugah pikiran dan membangkitkan kreativitas yang mungkin terkubur di dalam sana.
Aku masih berharap ada seorang tokoh seperti Obama di Indonesia yang bisa menyuntikkan semangat dan inspirasi untuk masyarakat Indonesia yang bingung maunya apa ini. Duh kapan ya, dan dimanakah dia berada ?
dalem. sepakat. aku memang tidak mendengarkan pidato Obama, tapi aku juga mengunduh text pidatonya di CNN juga
jangankan mendengarkan Obama. Mendengarkan kebesaran hati seorang Hillary saja sudah membuatku trenyuh. Andai sebuah kompetisi menghasilkan orang dengan kebesaran hati seperti itu.
i wrote the same topic with a different perspective on my blog :p
yes Edo, just visited yours and leave comment there..Hillary’s outstanding performance is another knock out speech too..i do envy those American whose those 2 inspiring and wonderful leader..
[...] Silahkan membaca sudut pandang teman saya diĀ blog nya. [...]
Sebuah posting yang sangat inspiratif. Saya juga menulis tentang great speech itu dari different angle….bisa disimak DISINI.
d cariin stafford lo…doi minta oleh2…kapan kopdar?
yuk kapan..gw sering kesana kok, terakhir nonton Primary Colours
Gemana LA ?
LA= Lenteng Agung
saya punya pendapat beda…
silakan klik di sini…
terimaksih udah mampir…gak nyangka di tanggepin=p salam kenal ya mbak tulisan nya bgs2…
kalau aku yang mendengarkan, mungkin aku gak bisa begitu terpukau ya soalnya gak tau maksudnya hehe… gak bisa basa inggris kok…