Media online tempat saya bekerja belum diluncurkan. Sesuai jadwal,akses untuk publik baru akan dibuka Oktober mendatang. Tapi meski masih berupa janin yang bersiap akan lahir, rupanya sudah cukup membuat gonjang ganjing jagat media online di Indonesia.
Ada dua tokoh yang saya tahu berkaok-kaok dengan nyaringnya, bahkan meradang dan menyalak. Tak usah disebut namanya, yang jelas kedua nama itu adalah para petinggi media besar di Indonesia yang merasa terusik egonya dan terancam teritori kerajaan kecil mereka. Biarlah mereka dengan kegeramannya. Anjing menggonggong, kafilah menggonggong balik, lalu berlalu ( meminjam istilah Dee di blognya )
Salah satu dari para penggonggong itu adalah guru saya. Saya sangat hormat, sayang dan peduli padanya. Bagaimanapun beliau lah yang telah “menemukan” saya, memperkenalkan saya dengan dunia jurnalistik yang sebenarnya, mengasah potensi saya dan kemudian membuat saya jatuh cinta pada bidang ini.
Kesempatan yang dibukakannya untuk saya pun tak hanya sekali. Saya bisa menapakkan diri di Istana Presiden dan mencicipi kesempatan perjalanan ke banyak negara, serta menimba pengalaman di level tertinggi itu pun karena peran beliau. Saya tak pernah melupakan sentuhan tangan emasnya dalam perjalanan karir saya.
Tapi bukan berarti relasi kami selalu mulus. Ada beberapa perbedaan pendapat yang membuat saya didiamkannya. Diamnya adalah pertanda beliau sedang marah. Marah yang tak ketulungan dan bisa bertahan hingga hitungan tahun. Beliau marah karena saya telah mengecewakannya, dengan menolak tawarannya pindah ke Jakarta dulu 7 tahun yang lalu.
Tahun berganti rasa marah itu rupanya luntur juga, dan beliau sekali lagi menjadi dewa penyelamat saya, dengan mengembalikan saya ke jalur jurnalistik. Bidang yang kemudian saya yakini adalah pilihan hidup saya yang tak ingin saya tukar lagi dengan yang lain.
Kali ini beliau marah lagi. Beliau kecewa karena saya telah memilih meninggalkan Istana Presiden dan bergabung dengan media online baru ini yang tentu saja akan menjadi pesaing berat media yang dipimpin dan dimilikinya.
Padahal bila beliau ingat, kesempatan ini pun sampai ke tangan saya melalui perantaranya. Sebuah pesan di YM yang mengabarkan mengenai adanya media baru yang sedang merekrut karyawan itu, disampaikannya pada saya, yang kemudian saya tindaklanjuti, hingga saya mendapatkan kursi yang saya incar. Lagi-lagi sentuhan tangan emasnya yang telah membawa saya ke tempat baru yang sangat menyenangkan ini.
Tapi rupanya beliau lupa kalau kepindahan saya ini karena informasi yang disampaikannya. Beliau kecewa ketika saya memilih untuk tidak menuntaskan misi saya di Istana Presiden hingga tahun 2009 mendatang. Ada banyak alasan tentu yang membuat saya memilih lompat kapal sebelum kapal itu karam.
Bagaimanapun saya ingin sebuah kepastian. Jenjang karir yang jelas. Keteraturan, suasana kerja yang nyaman, kolega-kolega yang mendukung saya bertumbuh dan semakin cerdas. Semua hal yang sulit saya dapatkan disana. Jiwa saya kerontang, otak saya tumpul karena jarang diasah. Mental saya adalah mental budak yang berlaku seperti robot. Dan saya tak sanggup untuk bertahan setahun lagi dalam kondisi seperti itu.
Alasan-alasan yang sangat logis tapi tetap saja mengecewakan sang guru, yang kemudian kembali mendiamkan saya seperti biasa bila beliau marah. Beliau tak mau tahu semua alasan itu, karena ini semua tentangnya bukan tentang saya. Saya diharapkan terus disana sebagai perpanjangan tangannya sebagai sumber informasi langsung dari dalam Istana, mengabdi pada kepentingannya.
Beliau tutup mata akan usia saya yang bertambah dan mendambakan kemapanan dalam karir dan kehidupan personal. Saya butuh uang lebih dan ingin punya keluarga. Beliau mungkin lupa bahwa saya sudah tak 20an lagi. Beliau bahkan sempat berusaha menakut-nakuti saya mengenai prospek dari media baru tempat saya bekerja saat ini. Beliau meragukan masa depan dan kelangsungan hidupnya. “Jangan salahin aku ya kalau nanti kenapa-kenapa,” katanya.
Saya hanya tersenyum mengingat perbincangan itu. Rasanya seumur hidup, saya tak pernah menyalahkan beliau atas keputusan yang saya ambil. Berbicara soal resiko, bukankah selalu ada dimanapun dan menjadi bagian dari setiap pilihan yang diambil ? Apakah bila saya memilih untuk tetap berada di tempat lama, ada jaminan bahwa saya lebih aman ? Buat otak sederhana saya, rasanya sangat gamblang di depan mata bahwa ketidakpastian dan resiko justru lebih besar akan saya hadapi disana.
Apakah setelah 2009 ada jaminan untuk kelangsungan pekerjaan selanjutnya ? Tak ada yang bisa menjamin. Seperti yang sudah-sudah, pengalaman banyak orang yang telah mengabdi dengan darah dan airmata pada Bapak Besar itu tahun 2004, dilupakan dan dicampakkan setelah beliau menjabat. Saya tak bodoh untuk mengabaikan fakta-fakta itu.
Tak hanya saya yang kemudian ditempatkan dalam daftar “kacang lupa kulit” oleh beliau. Sederet nama kolega saya yang berasal dari institusi yang sama juga mengalami hal serupa, dengan kadar berbeda. Saya hanya sekedar didiamkan, honor tulisan tak dibayar, ataupun diajak perang status di YM.
Teman yang lain dihajar lewat posting di blognya yang kemudian mengundang reaksi cukup keras di kalangan para pengguna internet yang mengenal beliau dan media yang dipimpinnya. Posting itu sudah menyerang kondisi fisik teman saya, yang mengundang simpati dan juga antipati.
Terus terang saya sedih dan prihatin. Mengapa seorang guru yang saya hormati bisa berlaku serendah itu. Emosional dan kekanak-kanakkan. Untuk seseorang di posisi sangat tinggi dan strategis seperti beliau, di usia sematang itu, dengan gelar haji yang disandangnya, ternyata berlaku seperti anak kecil yang ngambek dan minta perhatian dengan cara yang menyedihkan.
Mungkin beliau patah hati karena ditinggalkan anak-anak asuhannya. Bisa juga beliau khawatir akan persaingan antar media online yang akan menjadi semakin ketat dengan kehadiran media baru ini, yang digawangi oleh para mantan prajurit yang menyerap ilmu kadigdayaan andalannya. Senjata makan tuan, murid yang mengajak gurunya adu kencing sambil lari, padahal sang guru cuma bisa kencing sambil berdiri. Gagap, takut, kesal, sedih, sepertinya semua rasa itu cukup campur aduk, membuatnya semakin kalap dikuasai emosi.
Seandainya beliau melihatnya dari perspektif yang berbeda, tentu akan lain ceritanya. Dibandingkan marah sana sini, menebar kebencian kiri kanan, mengapa bukan melihat kedalam dan introspeksi.
“Kenapa anak-anakku pergi meninggalkanku ? Sudah tak nyaman lagi kah rumah ini bagi mereka ? Apakah sudah tak ada ruang untuk mereka tumbuh lagi ? Ataukah aku memang sengaja mengerdilkan mereka ? Aku anggap mereka apakah selama ini ? Sudahkah mereka hidup layak dan mendapatkan apa yang menjadi haknya ?”
Dari cerita mereka yang telah diluar kandang memang beredar begitu banyak kisah memprihatinkan dari media tempat saya menimba ilmu itu. Tangan kanan sang pemred yang main mata dengan narasumber demi sejumlah uang, jenjang karir berdasarkan like or dislike, anak-anak yang harus sibuk berbisnis sampingan untuk tetap bisa menyambung hidup, dan sistem yang amburadul.
Tak heran bila berita yang dihasilkan pun semakin menurun kualitasnya, yang bisa dilihat dari maraknya komentar negatif untuk berita-berita yang disajikan. Data yang tak akurat, penulisan yang salah, isi berita yang tak penting atau hanya sekedar pengulangan, dan judul bombastis yang ternyata misleading. Kekecewaan pembaca sudah memuncak dengan munculnya perbincangan di milis-milis atau blog. Salah satunya di blog sahabat saya ini.
Kekesalan pembaca tersebut telah disampaikan melalui email dari seorang mantan petinggi perusahaan telekomunikasi langsung ke CEO perusahaan induk media tersebut, karena rupanya sang pemred sudah tak menggubrisnya. Selain bersikap defensif, beliau lebih suka memantau keluar untuk mengamati perkembangan anak-anaknya yang bertebaran di media-media online baru yang sedang bersiap untuk unjuk gigi dan menantang sang almamater.
Saya mengungkapkan isi hati ini karena saya peduli tempat media dimana saya belajar dan dibesarkan.Saya tak ingin melihatnya mati perlahan kehabisan oksigen, hanya karena sang pemimpin terlanjur arogan. Saya menyayangi beliau sang guru, karena dari beliaulah saya menimba jurus-jurus jurnalistik yang sesungguhnya. Tak pernah ada mantan guru, tak ada ilmu yang tak berguna. Sembah takzim saya selalu untuk beliau tercinta.
Beliau adalah sosok yang penting bagi saya. Karena itu saya berharap agar segera ada yang menyadarkan beliau untuk bangun dan berbenah diri. Singkirkan rasa marah, lihatlah ke dalam, berbanggalah untuk anak-anaknya yang kemudian tumbuh besar dan maju di tempat lain. Kami bisa begini karena didikannya. Tersenyumlah daripada marah-marah terus. Legawa lah, ikhlaslah, dan perlakukan adik-adik angkatan kami yang masih di dalam sana dengan lebih baik.
Perbaiki kesejahteraan mereka, manusiakanlah mereka, dan penuhi kebutuhannya, sehingga tak harus ngobyek karena kenaikan gaji hanya 200 ribu setahun. Benahi sistem regenerasi, jangan one man show, karena tak ada yang bisa bekerja sendirian, dan tak ada keberhasilan tanpa sebuah tim yang solid.
Kecepatan bukan berarti mengabaikan akurasi. Tingkatkan kualitas intelektualitas para jurnalis di lapangan, berilah mereka waktu untuk membaca buku dan mengasah otak, sehingga pembaca bisa mendapat informasi yang berbobot.
Bila itu dilakukan tentunya persaingan ini akan semakin sehat dan pembaca media di Indonesia akan mendapat berkahnya.
nggg…
kayaknya gw kenal deh nden..
duu duu duu…
hehehhe
Artikel keren.. begitulah dunia kalau pimpinannya udah bobrok tinggal nunggu waktu saja.. dan emang saatnya ditinggal..
cool….
anak asuh yang salah asuh jadinya asu
kayanya……………ada yang belum disekolahin,
berat emang untuk ngumpat intelectually…… you did it intelectually, nden
Pemilik Taman Sari…
Membaca tulisan Anda, saya hanya bisa berdoa semoga tidak senasib dengan guru Anda.
Ya Allah, kelak jangan pernah Kau balas kedurhakaanku terhadap guru dan orangtuaku dengan kedurhakaan anak2ku terhadap aku…amiieen…
Suatu saat Anda bisa saja menjadi guru bagi orang lain. Dan suatu saat pula, aib anda bisa diungkapkan murid itu. Persis apa yang Anda lakukan saat ini…
tabik…
Guru adalah guru dan tetap guru. Dan guru juga manusia. Tak lepas dari berbagai keruwetan jalan dan cara hidup anak manusia sebagaimana kita masing-masing.
Berterima kasih lah kepada guru kita tanpa mencerca, bela lah guru kita tanpa memaki.
Hidup mba nenden dan mas budi…..
kenapa anda harus repot2 untuk menyebutnya guru??? karena dibalik kata guru itu terdapat ketulusan, keikhlasan…bukan seperti yang anda tuliskan.
semoga anda bisa melalui hidup ini dengan benar, “sebenar” anda mencerca dan mengumbar warta tentang kekurangan “guru” anda itu…itupun klo anda yakin itu benar-benar benar.
kelas anda di mana dulu? kini? …
ada kepentingan kali kalau dikau bertahan di istana
Saya dukung apapun keputusanmu, Teh.
Hidup Nenden…
He…He…..