<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Taman Sari</title>
	<atom:link href="http://tamansari.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://tamansari.wordpress.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Wed, 24 Sep 2008 13:06:34 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='tamansari.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/437060129ae212030554db02cd1d070c?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Taman Sari</title>
		<link>http://tamansari.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>The Pleasure of Giving</title>
		<link>http://tamansari.wordpress.com/2008/09/24/the-pleasure-of-giving/</link>
		<comments>http://tamansari.wordpress.com/2008/09/24/the-pleasure-of-giving/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Sep 2008 13:06:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tamansari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Life Journal]]></category>
		<category><![CDATA[Thought and Reflection]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tamansari.wordpress.com/?p=188</guid>
		<description><![CDATA[Siang hari ada sebuah email menyelinap ke inbox gmail saya. Dari seseorang tak dikenal. Tapi dia kemudian memperkenalkan diri bahwa dia pernah mengikuti kuliah saya di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, beberapa bulan lalu.
Ini adalah pertama kalinya dia berkirim email, dan langsung tanpa sungkan mengungkapkan kegundahan hatinya atas pekerjaan yang sedang dijalaninya. Dia bingung, haruskah melanjutkan proses [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tamansari.wordpress.com&blog=1418374&post=188&subd=tamansari&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Siang hari ada sebuah email menyelinap ke inbox gmail saya. Dari seseorang tak dikenal. Tapi dia kemudian memperkenalkan diri bahwa dia pernah mengikuti kuliah saya di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, beberapa bulan lalu.</p>
<p>Ini adalah pertama kalinya dia berkirim email, dan langsung tanpa sungkan mengungkapkan kegundahan hatinya atas pekerjaan yang sedang dijalaninya. Dia bingung, haruskah melanjutkan proses magang yang sedang dilakukannya di sebuah koran lokal itu apakah keluar. Saya tak mengenal secara personal tentunya, dan hanya berusaha memahami masalah yang sedang dihadapinya hanya dari rentetan kalimat yang melompat-lompat itu. Apalagi ditulis dengan gaya bahasa anak muda yang penuh dengan ejaan yang buat saya sungguh ajaib. Sungguh tak teratur dan amburadul.</p>
<p>Ditengah kesibukan mengedit tulisan dan foto, entah kenapa saya tergerak untuk langsung membalas email itu. Biasanya beberapa email sejenis sering saya tunda untuk membalasnya, menunggu suasana benar-benar santai dan saya bisa berpikir jernih. Memang sejak saya mengisi kuliah di beberapa  kelas itu, saya jadi sering menerima emai dari mereka yang pernah mengikuti kuliah saya. Isinya berbagai pertanyaan khas anak muda yang sedang bingung mencari jati diri.</p>
<p>Tadi, langsung saya sisihkan waktu sekitar 15 menit. Saya fokuskan pikiran saya untuk berusaha memahami dan kemudian merumuskan beberapa alternatif solusi. Saya tidak membuatkannya sebuah keputusan. Saya hanya mengarahkannya untuk mencari hal yang paling mendasar dari masalah yang dihadapinya. Apa sih yang dia mau ? Mau sekolah lagi, mau kerja di media, atau mau apa ? Selama kita bingung apa yang dimaui, mau kemana kapal kehidupan ini diarahkan, jangan harap kita bisa memutuskan dengan benar. Saya berusaha menulis dengan bahasa yang mudah dicerna dan analogi-analogi sederhana.</p>
<p>Saya pernah ada di posisi perempuan muda di usia pertengahan 20an yang bingung mau apa. Karena itu saya rasanya senang sekali diberi kesempatan untuk bisa berbagi dengan seseorang yang sedang membutuhkan bantuan pemikiran. Saya harap 15 menit waktu yang saya luangkan untuk menuliskan pengalaman yang pernah saya lewati, bisa membuat seseorang menempuh jalan yang lebih baik daripada saya. Tak harus tersesat dan jungkir balik gak karuan dulu untuk kemudian menemukan tujuan hidup.</p>
<p>Saya beruntung dikelilingi oleh guru-guru kehidupan yang tak lelah berbagi ilmu dan pengalaman. Sekarang saatnya saya untuk turut berbagi dengan siapapun yang mungkin tak seberuntung saya mendapatkan kesempatan berguru langsung pada para pejalan sunyi itu.</p>
<p>Tadi sore,  Sang Malaikat, salah satu maha guru saya, meluangkan waktunya untuk turun ke bumi dan menemani saya ngopi. Berdiskusi masalah pekerjaan dan tanggung jawab baru yang saya emban, mereview langkah-langkah yang telah saya ayun, dan mengingat kembali nilai-nilai kehidupan sebagai pedoman perjalanan kami. Satu jam kuliah kehidupan ditemani sepiring french fries dan moccachino sungguh menyegarkan hati. Sang Malaikat mengingatkan saya akan pentingnya bernafas dengan benar dan dahsyatnya efek dari pemikiran yang positif. Malaikat tercinta itu juga mengapreasiasi kemajuan yang telah saya capai, yang berulangkali dilakukannya. &#8221; Kalau aku jadi kamu mungkin aku juga gak kuat Nden. Dan aku salut sama kamu bisa melalui semuanya. You&#8217;re damn good&#8221; begitu katanya suatu kali.</p>
<p>Tak lupa saya juga mengucapkan selamat atas keberhasilan-keberhasilan yang baru diraihnya di dunia professional dan personal. Saya turut bahagia atas semua pencapaiannya. Rasa tulus menghangatkan hati, mengingat jalan panjang yang telah kami lalui. Kami tumbuh bersama dan secara dekat selalu saling mengingatkan untuk selalu berada di jalur yang benar. Sang Malaikat menatap saya dengan sorot mata bahagia, ketika saya berkisah bahwa saya sudah bisa merasakan senangnya bisa berbagi. Meski hanya serangkaian kalimat yang mudah-mudahan bisa memberikan sedikit cahaya terang di tengah jalan yang buntu.</p>
<p>&#8220;I did what you&#8217;ve been doing to me all these time, and I&#8217;m happy for having a chance doing that &#8220;</p>
<p>&#8220;Memberi itu selalu memberi kebahagiaan ketika dilakukan dengan tulus, tanpa berpikir sudah berapa banyak yang telah diberikan,&#8221; ujarnya.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tamansari.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tamansari.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tamansari.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tamansari.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tamansari.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tamansari.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tamansari.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tamansari.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tamansari.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tamansari.wordpress.com/188/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tamansari.wordpress.com&blog=1418374&post=188&subd=tamansari&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tamansari.wordpress.com/2008/09/24/the-pleasure-of-giving/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/10b7eae70f202d5a70cb164b33617fa5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tamansari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Guruku Sayang Guruku Malang..</title>
		<link>http://tamansari.wordpress.com/2008/09/14/guruku-sayang-guruku-malang/</link>
		<comments>http://tamansari.wordpress.com/2008/09/14/guruku-sayang-guruku-malang/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Sep 2008 03:46:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tamansari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Media]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tamansari.wordpress.com/?p=186</guid>
		<description><![CDATA[Media online tempat saya bekerja belum diluncurkan. Sesuai jadwal,akses untuk publik baru akan dibuka Oktober mendatang. Tapi meski masih berupa janin yang bersiap akan lahir, rupanya sudah cukup membuat gonjang ganjing jagat media online di Indonesia.
Ada dua tokoh yang saya tahu berkaok-kaok dengan nyaringnya, bahkan meradang dan menyalak. Tak usah disebut namanya, yang jelas kedua [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tamansari.wordpress.com&blog=1418374&post=186&subd=tamansari&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Media online tempat saya bekerja belum diluncurkan. Sesuai jadwal,akses untuk publik baru akan dibuka Oktober mendatang. Tapi meski masih berupa janin yang bersiap akan lahir, rupanya sudah cukup membuat gonjang ganjing jagat media online di Indonesia.</p>
<p>Ada dua tokoh yang saya tahu berkaok-kaok dengan nyaringnya, bahkan meradang dan menyalak. Tak usah disebut namanya, yang jelas kedua nama itu adalah para petinggi media besar di Indonesia yang merasa terusik egonya dan terancam teritori kerajaan kecil mereka. Biarlah mereka dengan kegeramannya. Anjing menggonggong, kafilah menggonggong balik, lalu berlalu ( <a href="http://dee-idea.blogspot.com/2008_08_01_archive.html" target="_blank">meminjam istilah Dee di blognya </a>)</p>
<p>Salah satu dari para penggonggong itu adalah guru saya. Saya sangat hormat, sayang dan peduli padanya. Bagaimanapun beliau lah yang telah &#8220;menemukan&#8221; saya, memperkenalkan saya dengan dunia jurnalistik yang sebenarnya, mengasah potensi saya dan kemudian membuat saya jatuh cinta pada bidang ini.</p>
<p>Kesempatan yang dibukakannya untuk saya pun tak hanya sekali. Saya bisa menapakkan diri di Istana Presiden dan mencicipi kesempatan perjalanan ke banyak negara, serta menimba pengalaman di level tertinggi itu pun karena peran beliau. Saya tak pernah melupakan sentuhan tangan emasnya dalam perjalanan karir saya.</p>
<p><span id="more-186"></span></p>
<p>Tapi bukan berarti relasi kami selalu mulus. Ada beberapa perbedaan pendapat yang membuat saya didiamkannya. Diamnya adalah pertanda beliau sedang marah. Marah yang tak ketulungan dan bisa bertahan hingga hitungan tahun. Beliau marah karena saya telah mengecewakannya, dengan menolak tawarannya pindah ke Jakarta dulu 7 tahun yang lalu.</p>
<p>Tahun berganti rasa marah itu rupanya luntur juga, dan beliau sekali lagi menjadi dewa penyelamat saya, dengan mengembalikan saya ke jalur jurnalistik. Bidang yang kemudian saya yakini adalah pilihan hidup saya yang tak ingin saya tukar lagi dengan yang lain.</p>
<p>Kali ini beliau marah lagi. Beliau kecewa karena saya telah memilih meninggalkan Istana Presiden dan bergabung dengan media online baru ini yang tentu saja akan menjadi pesaing berat media yang dipimpin dan dimilikinya.</p>
<p>Padahal bila beliau ingat, kesempatan ini pun sampai ke tangan saya melalui perantaranya. Sebuah pesan di YM yang mengabarkan mengenai adanya media baru yang sedang merekrut karyawan itu, disampaikannya pada saya, yang kemudian saya tindaklanjuti, hingga saya mendapatkan kursi yang saya incar. Lagi-lagi sentuhan tangan emasnya yang telah membawa saya ke tempat baru yang sangat menyenangkan ini.</p>
<p>Tapi rupanya beliau lupa kalau kepindahan saya ini karena informasi yang disampaikannya. Beliau kecewa ketika saya memilih untuk tidak menuntaskan misi saya di Istana Presiden hingga tahun 2009 mendatang. Ada banyak alasan tentu yang membuat saya memilih lompat kapal sebelum kapal itu karam.</p>
<p>Bagaimanapun  saya ingin sebuah kepastian. Jenjang karir yang jelas. Keteraturan, suasana kerja yang nyaman, kolega-kolega yang mendukung saya bertumbuh dan semakin cerdas. Semua hal yang sulit saya dapatkan disana. Jiwa saya kerontang, otak saya tumpul karena jarang diasah. Mental saya adalah mental budak yang berlaku seperti robot. Dan saya tak sanggup untuk bertahan setahun lagi dalam kondisi seperti itu.</p>
<p>Alasan-alasan yang sangat logis tapi tetap saja mengecewakan sang guru, yang kemudian kembali mendiamkan saya seperti biasa bila beliau marah. Beliau tak mau tahu semua alasan itu, karena ini semua tentangnya bukan tentang saya. Saya diharapkan terus disana sebagai perpanjangan tangannya sebagai sumber informasi langsung dari dalam Istana, mengabdi pada kepentingannya.</p>
<p>Beliau tutup mata akan usia saya yang bertambah dan mendambakan kemapanan dalam karir dan kehidupan personal. Saya butuh uang lebih dan ingin punya keluarga. Beliau mungkin lupa bahwa saya sudah tak 20an lagi. Beliau bahkan sempat berusaha menakut-nakuti saya mengenai prospek dari media baru tempat saya bekerja saat ini. Beliau meragukan masa depan dan kelangsungan hidupnya. &#8220;Jangan salahin aku ya kalau nanti kenapa-kenapa,&#8221; katanya.</p>
<p>Saya hanya tersenyum mengingat perbincangan itu. Rasanya seumur hidup, saya tak pernah menyalahkan beliau atas keputusan yang saya ambil. Berbicara soal resiko, bukankah selalu ada dimanapun dan menjadi bagian dari setiap pilihan yang diambil ? Apakah bila saya memilih untuk tetap berada di tempat lama, ada jaminan bahwa saya lebih aman ? Buat otak sederhana saya, rasanya sangat gamblang di depan mata bahwa ketidakpastian dan resiko justru lebih besar akan saya hadapi disana.</p>
<p>Apakah setelah 2009 ada jaminan untuk kelangsungan pekerjaan selanjutnya ? Tak ada yang bisa menjamin. Seperti yang sudah-sudah, pengalaman banyak orang yang telah mengabdi dengan darah dan airmata pada Bapak Besar itu tahun 2004, dilupakan dan dicampakkan setelah beliau menjabat. Saya tak bodoh untuk mengabaikan fakta-fakta itu.</p>
<p>Tak hanya saya yang kemudian ditempatkan dalam daftar &#8220;kacang lupa kulit&#8221; oleh beliau. Sederet nama kolega saya yang berasal dari institusi yang sama juga mengalami hal serupa, dengan kadar berbeda. Saya hanya sekedar didiamkan, honor tulisan tak dibayar, ataupun diajak perang status di YM.</p>
<p>Teman yang lain dihajar lewat posting di blognya yang kemudian mengundang reaksi cukup keras di kalangan para pengguna internet yang mengenal beliau dan media yang dipimpinnya. Posting itu sudah menyerang kondisi fisik teman saya, yang mengundang simpati dan juga antipati.</p>
<p>Terus terang saya sedih dan prihatin. Mengapa seorang guru yang saya hormati bisa berlaku serendah itu. Emosional dan kekanak-kanakkan. Untuk seseorang di posisi sangat tinggi dan strategis seperti beliau, di usia sematang itu, dengan gelar haji yang disandangnya, ternyata berlaku seperti anak kecil yang ngambek dan minta perhatian dengan cara yang menyedihkan.</p>
<p>Mungkin beliau patah hati karena ditinggalkan anak-anak asuhannya. Bisa juga beliau khawatir akan persaingan antar media online yang akan menjadi semakin ketat dengan kehadiran media baru ini, yang digawangi oleh para mantan prajurit yang menyerap ilmu kadigdayaan andalannya. Senjata makan tuan, murid yang mengajak gurunya adu kencing sambil lari, padahal sang guru cuma bisa kencing sambil berdiri. Gagap, takut, kesal, sedih, sepertinya semua rasa itu cukup campur aduk, membuatnya semakin kalap dikuasai emosi.</p>
<p>Seandainya beliau melihatnya dari perspektif yang berbeda, tentu akan lain ceritanya. Dibandingkan marah sana sini, menebar kebencian kiri kanan, mengapa bukan melihat kedalam dan introspeksi.</p>
<p>“Kenapa anak-anakku pergi meninggalkanku ? Sudah tak nyaman lagi kah rumah ini bagi mereka ? Apakah sudah tak ada ruang untuk mereka tumbuh lagi ? Ataukah aku memang sengaja mengerdilkan mereka ? Aku anggap mereka apakah selama ini ? Sudahkah mereka hidup layak dan mendapatkan apa yang menjadi haknya ?”</p>
<p>Dari cerita mereka yang telah diluar kandang memang beredar begitu banyak kisah memprihatinkan dari media tempat saya menimba ilmu itu. Tangan kanan sang pemred yang main mata dengan narasumber demi sejumlah uang, jenjang karir berdasarkan like or dislike, anak-anak yang harus sibuk berbisnis sampingan untuk tetap bisa menyambung hidup, dan sistem yang amburadul.</p>
<p>Tak heran bila berita yang dihasilkan pun semakin menurun kualitasnya, yang bisa dilihat dari maraknya komentar negatif untuk berita-berita yang disajikan. Data yang tak akurat, penulisan yang salah, isi berita yang tak penting atau hanya sekedar pengulangan, dan judul bombastis yang ternyata misleading. Kekecewaan pembaca sudah memuncak dengan munculnya perbincangan di milis-milis atau blog. Salah satunya di <a href="http://www.edo.web.id/wp/2008/09/12/portal-berita-favorit-anda/" target="_blank">blog sahabat saya ini</a>.</p>
<p>Kekesalan pembaca tersebut telah disampaikan melalui email dari seorang mantan petinggi perusahaan telekomunikasi langsung ke CEO perusahaan induk media tersebut, karena rupanya sang pemred sudah tak menggubrisnya. Selain bersikap defensif, beliau lebih suka memantau keluar untuk mengamati perkembangan anak-anaknya yang bertebaran di media-media online baru yang sedang bersiap untuk unjuk gigi dan menantang sang almamater.</p>
<p>Saya mengungkapkan isi hati ini karena saya peduli tempat media dimana saya belajar dan dibesarkan.Saya tak ingin melihatnya mati perlahan kehabisan oksigen, hanya karena sang pemimpin terlanjur arogan. Saya menyayangi beliau sang guru, karena dari beliaulah saya menimba jurus-jurus jurnalistik yang sesungguhnya. Tak pernah ada mantan guru, tak ada ilmu yang tak berguna. Sembah takzim saya selalu untuk beliau tercinta.</p>
<p>Beliau adalah sosok yang penting bagi saya. Karena itu saya berharap agar segera ada yang menyadarkan beliau untuk bangun dan berbenah diri. Singkirkan rasa marah, lihatlah ke dalam, berbanggalah untuk anak-anaknya yang kemudian tumbuh besar dan maju di tempat lain. Kami bisa begini karena didikannya. Tersenyumlah daripada marah-marah terus. Legawa lah, ikhlaslah, dan perlakukan adik-adik angkatan kami yang masih di dalam sana dengan lebih baik.</p>
<p>Perbaiki kesejahteraan mereka, manusiakanlah mereka, dan penuhi kebutuhannya, sehingga tak harus ngobyek karena kenaikan gaji hanya 200 ribu setahun. Benahi sistem regenerasi, jangan one man show, karena tak ada yang bisa bekerja sendirian, dan tak ada keberhasilan tanpa sebuah tim yang solid.</p>
<p>Kecepatan bukan berarti mengabaikan akurasi. Tingkatkan kualitas intelektualitas para jurnalis di lapangan, berilah mereka waktu untuk membaca buku dan mengasah otak, sehingga pembaca bisa mendapat informasi yang berbobot.</p>
<p>Bila itu dilakukan tentunya persaingan ini akan semakin sehat dan pembaca media di Indonesia akan mendapat berkahnya.</p>
<p class="MsoNormal">
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tamansari.wordpress.com/186/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tamansari.wordpress.com/186/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tamansari.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tamansari.wordpress.com/186/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tamansari.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tamansari.wordpress.com/186/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tamansari.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tamansari.wordpress.com/186/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tamansari.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tamansari.wordpress.com/186/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tamansari.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tamansari.wordpress.com/186/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tamansari.wordpress.com&blog=1418374&post=186&subd=tamansari&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tamansari.wordpress.com/2008/09/14/guruku-sayang-guruku-malang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/10b7eae70f202d5a70cb164b33617fa5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tamansari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Home Staff vs Local Staff..</title>
		<link>http://tamansari.wordpress.com/2008/09/02/home-staff-vs-local-staff/</link>
		<comments>http://tamansari.wordpress.com/2008/09/02/home-staff-vs-local-staff/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Sep 2008 11:53:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tamansari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Life Journal]]></category>
		<category><![CDATA[Thought and Reflection]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tamansari.wordpress.com/?p=182</guid>
		<description><![CDATA[Email dari seorang sahabat, mantan staf lokal di sebuah KBRI di belahan dunia yang luas ini. Inilah saripati pengalamannya dan para kolega senasibnya bertahun-tahun menjadi staf lokal. Syukurlah akhirnya dia sekarang sudah menemukan jalan hidup yang lebih baik..
Beda Home Staff ama Lokal staff &#8212;&#8211; saduran bebasnya

selingan dikit biar tambah sutris??
Bila Home Staff tetap pada pendapatnya,
itu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tamansari.wordpress.com&blog=1418374&post=182&subd=tamansari&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Email dari seorang sahabat, mantan staf lokal di sebuah KBRI di belahan dunia yang luas ini. Inilah saripati pengalamannya dan para kolega senasibnya bertahun-tahun menjadi staf lokal. Syukurlah akhirnya dia sekarang sudah menemukan jalan hidup yang lebih baik..</p>
<p><span style="font-size:x-small;"><strong>Beda Home Staff ama Lokal staff &#8212;&#8211; saduran bebasnya<br />
</strong></span></p>
<h2>selingan dikit biar tambah sutris??</h2>
<p>Bila Home Staff tetap pada pendapatnya,</p>
<div><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">itu berarti beliau konsisten.<br />
Bila Lokal Staff tetap pada pendapatnya,<br />
itu berarti dia keras kepala !</p>
<p>Bila Home Staff berubah-ubah pendapat,<br />
itu berarti beliau flexible.<br />
Bila Lokal Staff berubah-ubah pendapat,<br />
itu berarti dia plin-plan !</p>
<p>Bila Home Staff bekerja lambat,<br />
itu berarti beliau teliti.<br />
Bila Lokal Staff bekerja lambat<br />
itu berarti dia tidak &#8216;perform&#8217; !</p>
<p>Bila Home Staff bekerja cepat,<br />
itu berarti beliau &#8217;smart&#8217;.<br />
Bila Lokal Staff bekerja cepat,<br />
itu berarti dia terburu-buru !</p>
<p>Bila Home Staff lambat memutuskan,<br />
itu berarti beliau hati-hati.<br />
Bila Lokal Staff lambat memutuskan,<br />
itu berarti dia &#8216;telmi&#8217; !</p>
<p>Bila Home Staff mengambil keputusan cepat,<br />
itu berarti beliau berani mengambil keputusan.<br />
Bila Lokal Staff mengambil keputusan cepat,<br />
itu berarti dia gegabah !</p>
<p>Bila Home Staff terlalu berani ambil  resiko,<br />
itu berarti beliau risk-taking.<br />
Bila Lokal Staff terlalu berani ambil resiko,<br />
itu berarti dia sembrono !</p>
<p>Bila Home Staff tidak berani ambil resiko,<br />
itu berarti beliau &#8216;prudent&#8217;.<br />
Bila Lokal Staff tidak berani ambil resiko,<br />
itu berarti dia tidak berjiwa bisnis !</p>
<p>Bila Home Staff mem-by-pass prosedur,<br />
itu berarti beliau proaktif-inovatif.<br />
Bila Lokal Staff mem-by-pass prosedur,<br />
itu berarti dia melanggar aturan !</p>
<p>Bila Home Staff curiga terhadap mitra bisnis,<br />
itu berarti beliau waspada.<br />
Bila Lokal Staff curiga terhadap mitra bisnis,<br />
itu berarti dia negative thinking !</p>
<p>Bila Home Staff menyatakan : &#8221; Sulit &#8220;<br />
itu berarti beliau prediktif-antisipat if.<br />
Bila Lokal Staff menyatakan : &#8221; Sulit &#8220;<br />
itu berarti dia pesimistik !</p>
<p>Bila Home Staff menyatakan : &#8221; Mudah &#8220;<br />
itu berarti beliau optimis.<br />
Bila Lokal Staff menyatakan : &#8221; Mudah &#8220;<br />
itu berarti dia meremehkan masalah  !</p>
<p>Bila Home Staff sering keluar kantor,<br />
itu berarti beliau rajin ke counter part<br />
Bila Lokal Staff sering keluar kantor,<br />
itu berarti dia sering kelayapan !</p>
<p>Bila Home Staff sering entertainment,<br />
itu berarti beliau rajin me-lobby counter part.<br />
Bila Lokal Staff sering entertainment,<br />
itu berarti dia menghamburkan anggaran !</p>
<p>Bila Home Staff tidak pernah entertainment,<br />
itu berarti beliau berhemat.<br />
Bila Lokal Staff tidak pernah entertainment,<br />
itu berarti dia tidak bisa me-lobby counter part !</p>
<p>Bila Home Staff men-service atasan,<br />
itu berarti beliau me-lobby.<br />
Bila Lokal Staff men-service atasan,<br />
itu berarti dia menjilat !</p>
<p>Bila Home Staff sering tidak masuk,<br />
itu berarti beliau kecapaian karena kerja keras.<br />
Bila Lokal Staff sering tidak masuk,<br />
itu berarti dia pemalas !</p>
<p>Bila Home Staff membuat tulisan seperti ini,<br />
itu berarti beliau humoris.<br />
Bila Lokal Staff membuat tulisan  seperti ini,<br />
itu berarti dia :<br />
- frustasi<br />
- iri thd karir orang lain<br />
- negative thinking<br />
- provokasi<br />
- tidak tahan banting<br />
- barisan sakit hati<br />
- berpolitik di kantor<br />
- tidak produktif<br />
- tidak sesuai dengan budaya kbri/kjri<br />
- . . . . . . (masih banyak lagi)</p>
<p>Bila Home Staff baca e-mail ini<br />
Berarti dia butuh waktu untuk refreshing<br />
Bila Lokal Staff baca e-mail ini<br />
<span class="yshortcuts" style="border-bottom:1px dashed #0066cc;cursor:pointer;">Itu</span> berarti nggak ada kerjaan&#8230; kaya kamu&#8230;&#8230;.. .</p>
<p></span></div>
<p>viva d jongos.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tamansari.wordpress.com/182/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tamansari.wordpress.com/182/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tamansari.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tamansari.wordpress.com/182/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tamansari.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tamansari.wordpress.com/182/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tamansari.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tamansari.wordpress.com/182/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tamansari.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tamansari.wordpress.com/182/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tamansari.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tamansari.wordpress.com/182/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tamansari.wordpress.com&blog=1418374&post=182&subd=tamansari&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tamansari.wordpress.com/2008/09/02/home-staff-vs-local-staff/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/10b7eae70f202d5a70cb164b33617fa5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tamansari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tired..</title>
		<link>http://tamansari.wordpress.com/2008/09/01/tired/</link>
		<comments>http://tamansari.wordpress.com/2008/09/01/tired/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Sep 2008 09:57:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tamansari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Life Journal]]></category>
		<category><![CDATA[Thought and Reflection]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tamansari.wordpress.com/?p=180</guid>
		<description><![CDATA[Baru kusadari ternyata jiwa ini lelah. Kepala ini penuh, hati ini meronta ingin teriak.Emosi ini terkuras habis untuk sandiwara berbabak-babak yang baru saja usai. Tak ada yang salah. Aku bahagia dengan hidupku. Aku cinta semua yang kumiliki saat ini.
Batin ini hanya ingin istirahat. Sejenak menepi dan berjarak. Menaruh beban -beban itu sejenak dari bahuku. Meregangkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tamansari.wordpress.com&blog=1418374&post=180&subd=tamansari&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Baru kusadari ternyata jiwa ini lelah. Kepala ini penuh, hati ini meronta ingin teriak.Emosi ini terkuras habis untuk sandiwara berbabak-babak yang baru saja usai. Tak ada yang salah. Aku bahagia dengan hidupku. Aku cinta semua yang kumiliki saat ini.</p>
<p>Batin ini hanya ingin istirahat. Sejenak menepi dan berjarak. Menaruh beban -beban itu sejenak dari bahuku. Meregangkan otot tubuh. Memandang langit biru. Menyerap hangatnya matahari Kuta di pori-pori kulitku.  Menyesap sejuknya udara Ubud, memandang hijaunya persawahan dan menikmati melodi air gemericik. Duduk diam dan larut dalam irama alam.</p>
<p>Ada yang memanggil-manggil dari kejauhan. Para leluhur dari tanah para dewa itu menanti kedatanganku. Untuk kucium buminya. Kusembahkan senyum lepas dan tawa bahagia. Bali memanggilku pulang, mengisi ulang energiku yang terserap habis oleh hiruk pikuk kota ini. Aku ingin pulang. Bali..Bali..Bali..</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tamansari.wordpress.com/180/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tamansari.wordpress.com/180/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tamansari.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tamansari.wordpress.com/180/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tamansari.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tamansari.wordpress.com/180/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tamansari.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tamansari.wordpress.com/180/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tamansari.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tamansari.wordpress.com/180/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tamansari.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tamansari.wordpress.com/180/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tamansari.wordpress.com&blog=1418374&post=180&subd=tamansari&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tamansari.wordpress.com/2008/09/01/tired/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/10b7eae70f202d5a70cb164b33617fa5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tamansari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Obama yang menginspirasi..</title>
		<link>http://tamansari.wordpress.com/2008/08/31/obama-yang-menginspirasi/</link>
		<comments>http://tamansari.wordpress.com/2008/08/31/obama-yang-menginspirasi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 Aug 2008 12:06:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tamansari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Thought and Reflection]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tamansari.wordpress.com/?p=176</guid>
		<description><![CDATA[Headline Kompas Minggu (31/08) yang aku baca hari ini adalah &#8220;Lebih dari 40 Juta Orang Tonton Pidato Obama&#8221;. Aku adalah salah satunya. Hari Jumat aku ijin pada bos untuk bisa datang lebih lambat satu jam karena ingin menyaksikan pidato Barrack Obama dalam penerimaannya secara resmi sebagai kandidat Presiden AS dari Partai Demokrat di Denver, Colorado [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tamansari.wordpress.com&blog=1418374&post=176&subd=tamansari&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Headline Kompas Minggu (31/08) yang aku baca hari ini adalah &#8220;Lebih dari 40 Juta Orang Tonton Pidato Obama&#8221;. Aku adalah salah satunya. Hari Jumat aku ijin pada bos untuk bisa datang lebih lambat satu jam karena ingin menyaksikan pidato Barrack Obama dalam penerimaannya secara resmi sebagai kandidat Presiden AS dari Partai Demokrat di Denver, Colorado yang disiarkan secara langsung oleh Metro TV Jumat (29/08) jam 8 pagi. Sayang tak ditayangkan dengan tuntas hingga pungkas, karena Metro TV memutusnya tepat pukul 10.00.</p>
<p>Aku menontonnya bukan hanya karena terkait pekerjaan, tapi karena memang menantikannya. Figur yang fenomenal dan menjanjikan harapan baru yang lebih baik untuk Amerika dan tentu saja pengaruhnya untuk seluruh dunia.</p>
<p>Untuk pertama kalinya aku terpaku menonton pidato seseorang di depan televisi tanpa beranjak, mendengar kata demi kata yang diucapkannya. Memperhatikan gestur dan mimik wajahnya. Menatap tak berkedip ketika matanya menghadap kamera, melihatnya seakan berbicara langsung padaku, dan menyampaikan pesannya ke kepalaku dan menggugah hatiku.</p>
<p>Aku bukan warga Amerika, dan rasanya aku tak akan pernah melepaskan statusku sebagai WNI meski nanti mukim di Amerika hingga hari tua. Tapi saat itu dan tanggal 4 November nanti, aku bermimpi seandainya aku adalah warga negara Amerika dan bisa memilihnya sebagai Presiden. I wish I could say..He&#8217;s My President.</p>
<p>Pidato selama 45 menit tanpa teks itu benar-benar menggugah. Menggelorakan semangat, menancapkan harapan. Mengangkat pesimisme dari dalam diri untuk kembali berdiri menaklukan tantangan. Menyentuh hati setiap pendengarnya bahwa ini adalah bukan tentang dia, tapi tentang kita semua.</p>
<p>Tak heran bila semua yang berada disana tak henti-hentinya melakukan standing ovation menyambut setiap kalimatnya. Aku sampai merinding menyaksikannya, dan seringkali turut bertepuk tangan meskipun sendirian. Ah seandainya aku ada disana dan melihatnya langsung.</p>
<p>Mataku turut berkaca-kaca seperti 84 ribu orang yang mendengarkan langsung di Invesco Field, Denver. Tak bisa dipungkiri dia adalah orator ulung. Setiap kata yang meluncur dari mulutnya mengandung sihir yang membuat pendengarnya tak ingin berpaling, dan menunggu rentetan kalimat berikutnya.</p>
<p>Ungkapan yang keluar dari pikiran yang cerdas. Suaranya dalam dan berat. Jiwa mudanya memancarkan semangat dan energi positif akan optimisme. Tak ada keraguan, tak ada lirikan mata yang  berusaha mencuri pandang pada teks di hadapan. Tubuh dan tangannya bergerak secara alamiah, tak terkesan dibuat-buat atau teatrikal sebagai bagian dari aksi kehumasan.</p>
<p>Aku pun mengunduh teks pidatonya secara utuh dari BBC. Kuperhatikan setiap kalimatnya, dan aku masih bisa merasakan semangat, energi positif dan harapan disana. Ada rasa sedikit nelangsa dan prihatin terselip dalam hati. Kenapa aku tak merasakan hal seperti ini terhadap Presiden ku sendiri ? Apalagi para calon Presiden yang saat ini sedang gencar beriklan di TV-TV. Takada yang berhasil membuatku mau meluangkan waktu untuk mendengar apa yang mereka katakan. Karena jujur aku muak. Aku tak percaya lagi dengan apa yang mereka katakan. Jualan kecap nomor satu.</p>
<p>Lelaki tercintaku mengatakan bahwa rakyat negara ini belum siap dengan orang seperti Obama dengan pidatonya yang brilian itu. Dia membandingkannya dengan analogi dua kelompok penonton antara musik klasik dan dangdut. Orang Indo ini penonton dangdut, bukan penonton musik klasik. Jadi memang belom sampai tingkat berpikirnya, untuk kebanyakan masyarakat Indonesia yang masih bermasalah dengan terbatasnya pendidikan yang bisa diakses.</p>
<p>Tapi aku tak sepenuhnya setuju. Ini bukan soal penontonnya. Ini soal siapa yang berbicara. Bagaimana bisa tergugah dan menjadi bersemangat, bila pidatonya begitu membosankan sehingga membuat pendengarnya tertidur dan memilih mengobrol sendiri ? Para wartawan pun selalu kebingungan untuk mengutip isi dari pidatonya, karena seringkali hanya pengulangan yang sudah basi dan disampaikan di begitu banyak kesempatan. Media pun kehabisan ide untuk menjadikannya headline.</p>
<p>Tapi bukannya introspeksi, yang ada malah marah-marah menyalahkan orang lain. Sekalinya pidato tak menggunakan teks, yang ada malah melantur kanan kiri semakin tak ada isi. Jatah waktu 10 menit bisa menjadi berlipat dua dan tak ada orang yang berani mengingatkan.</p>
<p>Rakyat Indonesia yang penonton dangdut ini aku yakin akan duduk dan mendengarkan bila memang si pembicara itu memiliki kapasitas untuk itu. Pesan yang diutarakannya jelas, dan disampaikan dengan pembawaan yang menarik perhatian tanpa harus dipaksakan. Aku jadi teringat rakyat Indonesia tahun 60an yang rela berkumpul beramai-ramai di dekat sebuah radio hanya untuk mendengarkan pidato Bung Karno.</p>
<p>Bagaimanapun aku percaya akan kekuatan kata-kata. Entah kata-kata yang ditulis para penulis hebat melalui buku-bukunya, atau para pembicara publik dalam seminar-seminarnyaya, maupun para tokoh yang berhasi memukau pendengarnya melaui pidato-pidatonya.</p>
<p>Intinya adalah soal ketulusan dan pesan yang mengena. Kita butuh suntikan optimisme untuk menjalani hidup yang kian sulit. Kita ingin mendengar kalimat-kalimat yang menginspirasi untuk berbuat lebih baik dan bangkit dari keterpurukan. Kita perlu lantunan semangat untuk menggugah pikiran dan membangkitkan kreativitas yang mungkin terkubur di dalam sana.</p>
<p>Aku masih berharap ada seorang tokoh seperti Obama di Indonesia yang bisa menyuntikkan semangat dan inspirasi untuk masyarakat Indonesia yang bingung maunya apa ini. Duh kapan ya, dan dimanakah dia berada ?</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tamansari.wordpress.com/176/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tamansari.wordpress.com/176/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tamansari.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tamansari.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tamansari.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tamansari.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tamansari.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tamansari.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tamansari.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tamansari.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tamansari.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tamansari.wordpress.com/176/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tamansari.wordpress.com&blog=1418374&post=176&subd=tamansari&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tamansari.wordpress.com/2008/08/31/obama-yang-menginspirasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/10b7eae70f202d5a70cb164b33617fa5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tamansari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Selamat Hari Senin</title>
		<link>http://tamansari.wordpress.com/2008/08/24/selamat-hari-senin/</link>
		<comments>http://tamansari.wordpress.com/2008/08/24/selamat-hari-senin/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Aug 2008 03:00:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tamansari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Life Journal]]></category>
		<category><![CDATA[Thought and Reflection]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tamansari.wordpress.com/?p=173</guid>
		<description><![CDATA[Senin pagi di Jakarta yang tak terlalu cerah. Aku bangun dengan riang dan semangat membara. Senang sekali hati ini. Kantor baru ini memang berhasil menyuntikkan bergalon-galon semangat ke tubuhku. Pekerjaan yang kulakukan lebih menantang otak daripada fisikku.
Seharian hanya duduk di depan laptop mengunyah segudang informasi tentang berbagai peristiwa di dunia. Otakku dipaksa menelan, mencerna dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tamansari.wordpress.com&blog=1418374&post=173&subd=tamansari&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Senin pagi di Jakarta yang tak terlalu cerah. Aku bangun dengan riang dan semangat membara. Senang sekali hati ini. Kantor baru ini memang berhasil menyuntikkan bergalon-galon semangat ke tubuhku. Pekerjaan yang kulakukan lebih menantang otak daripada fisikku.</p>
<p>Seharian hanya duduk di depan laptop mengunyah segudang informasi tentang berbagai peristiwa di dunia. Otakku dipaksa menelan, mencerna dan kemudian menuliskannya kembali dalam sebuah tulisan yang padat tapi enak dibaca. Tantangan yang lumayan untuk otakku yang sekian lama berkarat tak terpakai.</p>
<p>Tubuh ini rasanya lebih terasa penat daripada ketika harus liputan berjam-jam di lapangan. Setiap malam aku pulang dengan tenaga yang hampir tak bersisa, dan pagi pukul 5 harus sudah bangun karena memantau perkembangan peristiwa dunia yang terjadi selama kita di Indonesia tidur lelap. Herannya meski lelah otak dan tubuh, tapi hati  aku menyukainya karena rasanya aku tahu untuk apa semua ini.</p>
<p>Hal lain yang membuatku nyaman disini adalah suasana kantor yang egaliter. Bos-bos besar itu tak segan duduk makan siang dan ngopi bersama kami, ngobrol ngalor ngidul, diskusi, bercanda, dan selalu membayari bon-bon makanan kami, hehehe..pantesan, nggak dink kita malah sungkan kok dibayarin melulu.</p>
<p>Satu yang aku garis bawahi dari sang Pemred Karaniya Darmasaputra atau kami memanggilnya Pak KD/Mas Kar/Pak Kar, ketika training editor 2 mingggu lalu dia mengatakan bahwa dia sangat menginginkan wartawan yang tergabung disini menjadi seorang specialis untuk isu tertentu.</p>
<p>&#8220;Jadilah wartawan spesialis untuk isu yang anda sukai. Saya ingin setiap minggu salah satu dari kalian menulis analisa untuk sebuah isu tertentu. Begitu juga untuk book review. Harus ditulis oleh kalian secara bergiliran, agar kalian dipaksa membaca,&#8221; kata Mas Kar yang selalu mengenakan jins dan kemeja casual itu.</p>
<p>Jujur aku langsung jatuh cinta dengan bos yang seperti ini. Bos yang memberi ruang kepada anak buahnya untuk berkembang, mendorong setiap orang menemukan potensi terbaiknya dan mengangkatnya ke permukaan. &#8221; Saya ingin nanti kalian terkenal sebagai pakar ini pakar itu, analis yang laris ditanggap disana sini, &#8221; katanya lagi.</p>
<p>Usai training aku langsung bertanya pada diriku, aku mau jadi spesialis wartawan apa sih ? Bidang apa yang sangat aku sukai dan menjalaninya dengan penuh passion. Aku tahu jawabnya, travelling. Kebetulan aku memang diserahi tugas untuk menangani rubrik jalan-jalan itu. Ah senangnya, rupanya aku sudah berada di jalur yang benar. I love my job, my boss, my office and my colleagues. I love my baby, my friends, and my whole life.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tamansari.wordpress.com/173/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tamansari.wordpress.com/173/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tamansari.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tamansari.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tamansari.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tamansari.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tamansari.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tamansari.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tamansari.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tamansari.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tamansari.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tamansari.wordpress.com/173/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tamansari.wordpress.com&blog=1418374&post=173&subd=tamansari&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tamansari.wordpress.com/2008/08/24/selamat-hari-senin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/10b7eae70f202d5a70cb164b33617fa5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tamansari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dina,Kuba dan diplomat Deplu..</title>
		<link>http://tamansari.wordpress.com/2008/08/23/dinakuba-dan-diplomat-deplu/</link>
		<comments>http://tamansari.wordpress.com/2008/08/23/dinakuba-dan-diplomat-deplu/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Aug 2008 17:11:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tamansari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Thought and Reflection]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tamansari.wordpress.com/?p=169</guid>
		<description><![CDATA[Pertemuan &#8220;kebetulan&#8221; di YM beberapa hari lalu dengan seorang teman dari jauh membuahkan janji makan siang di akhir pekan ini. Seorang teman yang sudah dua tahun tak berjumpa, dan ini pun merupakan perjumpaan kami yang kedua. Dina Martina namanya. Dia seorang teman yang kukenal dari perjalanan dinasku bersama Sang Presiden yang paling fenomenal. Aku mengenalnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tamansari.wordpress.com&blog=1418374&post=169&subd=tamansari&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Pertemuan &#8220;kebetulan&#8221; di YM beberapa hari lalu dengan seorang teman dari jauh membuahkan janji makan siang di akhir pekan ini. Seorang teman yang sudah dua tahun tak berjumpa, dan ini pun merupakan perjumpaan kami yang kedua. Dina Martina namanya. Dia seorang teman yang kukenal dari perjalanan dinasku bersama Sang Presiden yang paling fenomenal. Aku mengenalnya di belahan bumi yang lain, kota Havana-Kuba.</p>
<p>Mbak Dina adalah staf KBRI Havana yang mengurusi kunjungan kami di kota itu September 2006. Dari sekian perjalanan luar negeri yang kulakukan selama meliput kegiatan Presiden, baru Mbak Dina lah orang KBRI yang kemudian menjadi teman baik yang berlangsung hingga sekarang. Aku sendiri takjub, akhirnya ada juga orang Deplu yang punya kepribadian yang hangat, tulus, dan rendah hati, yang membuatku luluh dalam respek dan kekaguman.</p>
<p><span id="more-169"></span></p>
<p>Sungguh untuk anda yang tak pernah berurusan dengan para diplomat Departemen Luar Negeri RI, mungkin menganggap pernyataanku diatas itu hiperbola. Tapi cobalah sekali saja berurusan dengan mereka, apalagi berkali-kali, mungkin anda akan segera mengamini apa yang kutulis diatas. Entahlah apa yang ada di kepala para diplomat itu, tapi yang jelas kelakuan mereka itu seringkali bikin aku muak, dan malu sebagai WNI.</p>
<p>Sifat arogan, merasa sebagai manusia paling penting sedunia, si manusia super cerdas dan negosiator ulung, membuat sebagian besar diplomat muda mengangkat kepala tinggi-tinggi dan tatapan yang seakan menyiratkan, &#8220;elo siape ?&#8221;.  Para diplomat yang level menengah kelakuannya tak kalah nyebelin. Culas, manipulatif, tak sungkan menginjak rekan dan bawahan, jilat pantat atasan, jago cari muka dan pintar untuk cari peluang tampil demi promosi jabatan. Sedangkan para diplomat tua gila hormat dan mabuk kekuasaan.  Mereka harus disembah dan harus selalu berjalan diatas karpet merah. Kekecualian untuk Pak Ali Alatas.</p>
<p>Maafkan kalau aku sulit untuk menuliskan kalimat-kalimat indah tentang mereka di posting ini, karena memang tak banyak kesan baik yang tertinggal tentang para diplomat Deplu ini di kepalaku. Mbak Dina yang sudah selesai masa tugasnya di Havana dan sekarang menjadi bagian dari Ditjen Amselkar di Jakarta ini memang super kekecualian dari para mahluk Deplu yang arogan itu. Aku angkat topi dengan semangat pengabdian dan pelayanan publik yang dilakukannya. WNI di Havana sangat kehilangan staf KBRI yang menjadi panutan dan tempat mereka berpaling untuk setiap masalah, juga sahabat terbaik yang memperlakukan mereka sebagai keluarga.</p>
<p>Aku menerima surat dari <a href="http://tamansari.wordpress.com/2007/08/24/pak-widodo-akhirnya-jadi-wni-lagi/" target="_blank">Pak Widodo dari Havana, yang sekarang sudah resmi menjadi WNI itu, </a>mengenai kesannya tentang kehilangan seorang Dina Martina yang bersahaja dan penolong itu. Bila para diplomat Indonesia itu seringkali sulit dimintai tolong WNI yang membutuhkan bantuan di negara tempat mereka bertugas, padahal gaji rakyat Indonesia lah yang mereka makan ribuan USD tiap bulannya itu, Mbak Dina adalah anomali dari kelompok itu.</p>
<p>Kami menghabiskan siang hingga sore ini dengan segudang cerita tentang Havana, Kuba, orang-orang yang kami kenal, kegeramannya tentang sistem rekruitmen pegawai baru di Deplu yang dinilainya mengabaikan penilaian tentang moralitas dan karakter. &#8221; Memang bagus menerima orang-orang pintar lulusan berbagai universitas terkenal lokal maupun dalam luar negeri, tapi seharusnya karakter juga menjadi bahan pertimbangan dalam proses seleksi. Pintar tapi moralitasnya rendah, dan karakternya sulit bekerjasama, tinggi hati, untuk apa ?&#8221; gugatnya.</p>
<p>Ya, dia pantas kesal, karena pengalamannya bertahun -tahun harus bekerjasama dengan orang-orang yang merupakan hasil proses seleksi yang gagal dan sangat kental dengan nuansa nepotisme itu. Bagaimanapun para diplomat adalah ujung tombak diplomasi RI di luar negeri sekaligus menjadi wajah Indonesia di dunia internasional. Karakter mereka menjadi cerminan karakter orang Indonesia, yang katanya santun, penolong, ramah, rendah hati dan terbuka.</p>
<p>Aku cukup kenyang berurusan dengan para diplomat itu bila sedang bertugas liputan luar negeri bersama Presiden. Seringkali tangan ini gatal pengen melayang, dan mulut ini tak tahan untuk mengumpat. Duh untung aku masih berhasil menaikkan derajat kesabaranku hingga tak meledak di muka umum. Sikap meremehkan,  dan etika yang nol sering sekali membuat darah mendidih, seperti yang pernah kutulis di blogku satunya tentang pengalamanku berurusan dengan seorang <a href="http://mypastpresentandfuture.blogs.friendster.com/mypastpresentandfuture/2007/06/diplomat_korsle.html" target="_blank">diplomat korslet yang sakit jiwa.</a></p>
<p>Aku sebagai WNI sangat prihatin dengan kondisi ini, ketika wajah-wajah kita orang Indonesia, diwakili oleh manusia-manusia bermoral rendah seperti itu di dunia internasional. Alangkah memalukannya.. Segudang kisah lain tentang kelakuan ajaib para diplomat itu juga aku dengar dari para kolega, teman dan sahabat, yang memiliki pengalaman buruk dengan pelayanan dan sikap mereka terhadap sesama warga bangsa yang seharusnya mereka layani, karena memang untuk itulah mereka dibayar negara.</p>
<p>Tapi cukuplah kusimpan sendiri, karena aku ingin mendengar kisah anda yang mungkin punya pengalaman serupa dengan para diplomat kita. Entah yang baik maupun yang tak terlupakan karena menorehkan luka atau kekesalan di hati. Meskipun besar harapanku untuk lebih sering mendengar kisah baik tentang mereka. Tapi selama proses seleksi masih harus dengan prosedur titip sana sini, sogok kanan kiri, abai pada penilaian moralitas dan kesehatan jiwa, rasanya harapan ini akan tinggal harapan.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tamansari.wordpress.com/169/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tamansari.wordpress.com/169/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tamansari.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tamansari.wordpress.com/169/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tamansari.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tamansari.wordpress.com/169/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tamansari.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tamansari.wordpress.com/169/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tamansari.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tamansari.wordpress.com/169/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tamansari.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tamansari.wordpress.com/169/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tamansari.wordpress.com&blog=1418374&post=169&subd=tamansari&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tamansari.wordpress.com/2008/08/23/dinakuba-dan-diplomat-deplu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/10b7eae70f202d5a70cb164b33617fa5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tamansari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Rumah baru, hidup baru..</title>
		<link>http://tamansari.wordpress.com/2008/08/19/rumah-baru-hidup-baru/</link>
		<comments>http://tamansari.wordpress.com/2008/08/19/rumah-baru-hidup-baru/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Aug 2008 02:31:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tamansari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Life Journal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tamansari.wordpress.com/?p=167</guid>
		<description><![CDATA[Indonesia merayakan ulang tahunnya yang k-63 tahun ini. Seperti tahun-tahun sebelumnya, upacara dan berbagai keriaan digelar untuk merayakannya. Ritual yang sama. Tak ada perubahan yang signifikan selain pesta tahunan dan pengingat disana sini mengenai makna kemerdekaan. Para veteran diundang ke Istana Merdeka untuk mengikuti upacara peringatan detik-detik proklamasi, dilanjutkan dengan acara makan siang, dan setelah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tamansari.wordpress.com&blog=1418374&post=167&subd=tamansari&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Indonesia merayakan ulang tahunnya yang k-63 tahun ini. Seperti tahun-tahun sebelumnya, upacara dan berbagai keriaan digelar untuk merayakannya. Ritual yang sama. Tak ada perubahan yang signifikan selain pesta tahunan dan pengingat disana sini mengenai makna kemerdekaan. Para veteran diundang ke Istana Merdeka untuk mengikuti upacara peringatan detik-detik proklamasi, dilanjutkan dengan acara makan siang, dan setelah itu kembali dilupakan, hingga datang tanggal 17 Agustus tahun berikutnya. Selalu seperti itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Satu hal yang berubah kali ini. Saya tak lagi menjadi bagian dari hiruk pikuk perayaan HUT RI di Istana. Tahun ini saya melaluinya dengan acara sendiri, yang merupakan tonggak penting dalam kehidupan saya. Saya pindah rumah. Akhirnya saya berhasil memiliki tempat sendiri yang bisa saya sebut rumah dalam arti sesungguhnya. Sebuah rumah yang utuh dengan bagian yang lengkap untuk saya merajut hari dengan semestinya sebagai seorang manusia dewasa. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Ketika rekan-rekan wartawan Istana sedang sibuk di Istana mewawancarai anggota Paskibaraka tahun ini, mengamati siapa saja tamu penting yang hadir, dan pakaian apa yang dikenakan mereka, saya sibuk mengangkut barang dari kamar kos saya di<span> </span>Petojo menuju rumah baru saya di Tebet. Kerepotan yang saya lakukan dengan senang hati.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Semua ini seperti mimpi rasanya. Rumah yang saya idamkan sejak lama, bersih, nyaman, dan di lokasi yang strategis. Memang tak ada yang kebetulan, seperti yang telah saya percayai sejak lama. Saya sadari ini telah menjadi skenario-Nya. Hanya saya saja yang selama ini tak sabar, dan tak mengetahui rahasia dibalik segala kesulitan dan hambatan yang saya alami. Bersamaan dengan kepindahan saya ke kantor baru,saya mendapatkan rumah ini yang secara lokasi lebih dekat ke kantor baru saya di bilangan Dr.Satrio. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Bak menerima durian runtuh, ketika sahabat saya sejak SMP menelpon,dan menawari saya untuk meneruskan sewa rumah yang dia tempati, karena kantornya pindah ke Kemanggisan, sehingga dia pun harus pindah ke daerah sana. &#8221; Jauh banget kalo ke Kemanggisan dari Tebet, Nden,&#8221; ujarnya. Tanpa berpikir dua kali saya pun langsung mengiyakan. Sudah dari dulu saya mengincar lokasi di tempat tinggal sahabat saya itu, cuma saat itu saya pikir terlalu jauh dari kantor saya di Istana Presiden. Saya hanya akan mempersulit diri sendiri, secara saya saat itu masih berstatus sebagai manusia panggilan, alias kacung 24 jam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Memang seperti orang bilang, kalau jodoh gak kemana, akhirnya rumah disini berhasil saya dapatkan juga. Saatnya belajar masak, dan menyalurkan hasrat menata rumah yang selama ini terpendam. Saya ingin memanjakan perut dan lidah lelaki tercinta dan anak-anak kami dengan masakan racikan saya sendiri. Karena saya suka iri dengan teman-teman saya yang dengan bangga mengatakan bahwa mereka rindu masakan ibu mereka rumah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Saya tidak punya pengalaman itu, karena ibu kandung saya di Bandung tak suka memasak, dan tidak pernah menganggap penting namanya ritual makan bersama duduk di meja makan, kecuali bulan puasa. Ibu yang suka memasak untuk saya adalah mama, ibu angkat saya almarhum di Jogja, yang masakannya enak, dan selalu bertanya, &#8221; Nenden mau makan apa ?&#8221;, dan kami selalu duduk di meja makan untuk makan bersama minimal sekali sehari. Seandainya mama masih ada tentu saya akan berguru memasak padanya saat ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Lelaki tercinta itu juga menyukai rumah pilihan saya ini. &#8220;Enak, bersih, nyaman, nice place,&#8221; katanya ketika pertama kali melihat rumah ini. Dia pun sigap berkeringat turut repot membawa barang-barang saya yang segambreng itu dengan mobilnya. Senangnya saya memiliki rumah yang bisa menerima tamu.Saatnya menata ruang duduk yang nyaman, agar sahabat-sahabat dan orang-orang tercinta itu bisa betah berkunjung. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Hal yang lebih membahagiakan adalah ketika saya menyadari bahwa kali ini saya mempunyai tujuan yang lebih jelas dalam hidup.Ini bukan hanya sebuah rumah, tapi sebuah langkah besar dalam hidup saya, yang menandai tujuan saya dalam hidup yang sibuk ini. Sekarang saya tahu untuk apa saya bekerja tiap hari hingga malam. Saya merasa ajeg dengan hidup saya saat ini, dan berdiri diatas rel yang menuju ke sebuah titik yang saya pilih dengan sadar.</span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tamansari.wordpress.com/167/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tamansari.wordpress.com/167/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tamansari.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tamansari.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tamansari.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tamansari.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tamansari.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tamansari.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tamansari.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tamansari.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tamansari.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tamansari.wordpress.com/167/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tamansari.wordpress.com&blog=1418374&post=167&subd=tamansari&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tamansari.wordpress.com/2008/08/19/rumah-baru-hidup-baru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/10b7eae70f202d5a70cb164b33617fa5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tamansari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Brand new days @brand new office :)</title>
		<link>http://tamansari.wordpress.com/2008/08/10/brand-new-days-brand-new-office/</link>
		<comments>http://tamansari.wordpress.com/2008/08/10/brand-new-days-brand-new-office/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Aug 2008 04:14:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tamansari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Life Journal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tamansari.wordpress.com/?p=164</guid>
		<description><![CDATA[Sudah dua hari ini saya menikmati suasana kehidupan kantor baru. Ruangan yang terang benderang dengan kaca di sekelilingnya, dan pemandangan lepas menatap langit Jakarta yang pekat oleh polusi dari lantai 31, serta suasana kantor yang hiruk pikuk oleh ratusan orang yang berkutat di kubikalnya masing-masing. Atmosfir baru yang sudah lama tidak saya rasakan.
Hari pertama masuk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tamansari.wordpress.com&blog=1418374&post=164&subd=tamansari&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Sudah dua hari ini saya menikmati suasana kehidupan kantor baru. Ruangan yang terang benderang dengan kaca di sekelilingnya, dan pemandangan lepas menatap langit Jakarta yang pekat oleh polusi dari lantai 31, serta suasana kantor yang hiruk pikuk oleh ratusan orang yang berkutat di kubikalnya masing-masing. Atmosfir baru yang sudah lama tidak saya rasakan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Hari pertama masuk kantor yang membingungkan karena ketatnya sekuriti, lebih ribet daripada masuk Istana Presiden rasanya. Untuk masuk di lobi sudah dicegat satpam untuk diperiksa tas, melewati detektor logam, kemudian harus meninggalkan identitas untuk mendapatkan kartu akses masuk, karena pintu tak akan terbuka tanpa kartu magnetik tersebut, dan kita pun tak bisa nebeng orang lain yang punya kartu untuk masuk, karena tiap kartu di desain hanya bisa untuk membuka pintu bagi satu orang saja. Tak heran terjadi antrian panjang usai makan siang untuk bisa masuk kembali ke kantor, karena pintu hanya bisa terbuka satu demi satu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Begitu juga ketika masuk lift, untuk bisa memencet angka 31 saya harus menggunakan kartu magnet itu, sama halnya untuk membuka pintu utama kantor yang sementara belum bisa dilakukan karena kartu ID karyawan milik saya belum jadi. Ribet karena saya belum terbiasa saja. Namanya juga gedung modern dengan pengamanan yang canggih dan serba otomatis, tanpa perlu mengerahkan sepasukan tentara untuk menjaganya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Laptop baru saya merknya Acer Aspire 4315, spesifikasi yang tentu saja sangat jauh dibawah Fujitsu Life Series yang saya gunakan di kantor lama. Ditambah plesetan dari seorang teman lama yang bekerja di sebuah perusahaan komputer yang mengatakan bahwa Acer itu kependekan dari Agak Cepat Rusak hehehe. Terserahlah, saya gak peduli. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Dikasih laptop pun sudah syukur, lagipula untuk seorang editor seperti saya memang tak perlu laptop yang canggih.Toh tools yang saya gunakan juga terbatas hanya untuk mengedit tulisan dan foto. Saya bukan gadget freak yang mengagungkan peralatan harus ini atau itu, the most important thing buat saya adalah &#8220;man behind the gun&#8221;. Brain atau orang yang menggunakan peralatan itulah yang lebih penting untuk menghasilkan karya yang maksimal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Diskusi yang hangat kemarin terjadi di kantor baru ketika salah satu petinggi di perusahaan ini berkunjung. Setelah menyimak presentasi dari tim mengenai perkembangan terakhir dari persiapan yang sedang dilakukan, sang petinggi yang sedang rajin beriklan di media massa untuk mengenalkan diri ini pun membuka ruang untuk tanya jawab. Namanya wartawan dikasih kesempatan begini tentu saja tak disia-siakan. Terjadilah forum yang gayeng karena kami bisa mendengarkan langsung pemikiran-pemikirannya, mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis yang dijawab dengan tangkas dan tuntas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Suasana diskusi seperti ini yang saya rindukan dari sebuah kantor. Proses pertukaran ide, mengupas sebuah isu dari berbagai sisi, semua orang mendapat kesempatan yang sama untuk menyampaikan ide, bertanya dan mendapat tanggapan. Setara dan cair. Soal sepaham dan tidak itu soal lain, tapi yang jelas terjadi sebuah forum dialog yang membuka cakrawala berpikir semua orang yang terlibat. Bukan hanya sebuah monolog yang berisi perintah atasan pada bawahan. Dengan tongkat komando yang bersifat sakral dan tak terbantahka khas birokrasi dengan sentuhan kental kultur militer. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Saya merasa hidup dan bergairah lagi. Otak saya sekarang tergelitik untuk kembali aktif menelurkan ide-ide kreatif. Ada ruang yang disajikan ke hadapan saya untuk diwarnai dan dieksplorasi. Meskipun saya bukan manusia yang pintar-pintar amat seperti para pemenang beasiswa Fullbright itu tapi saya menyadari bahwa ketika otak kelamaan tak terpakai itu berbahaya juga. Saya jadi ingat GM mengatakan dalam obrolan ngopi sore hari di Cikini, bahwa saya ini katanya kategori half bright saja hehehe. Tapi meskipun half bright tetap harus segera dilakukan upaya penyelamatan sebelum mengalami malfungsi karena terlanjur beku hihihi.. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Ah senangnya menemukan kehidupan saya kembali..Saatnya berkarya dan memberikan yang terbaik atas anugerah yang telah diberikan-Nya ini, tentu saja untuk hidup yang lebih bermakna. Selamat berkarya Nenden !</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tamansari.wordpress.com/164/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tamansari.wordpress.com/164/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tamansari.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tamansari.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tamansari.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tamansari.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tamansari.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tamansari.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tamansari.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tamansari.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tamansari.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tamansari.wordpress.com/164/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tamansari.wordpress.com&blog=1418374&post=164&subd=tamansari&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tamansari.wordpress.com/2008/08/10/brand-new-days-brand-new-office/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/10b7eae70f202d5a70cb164b33617fa5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tamansari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>This is it..</title>
		<link>http://tamansari.wordpress.com/2008/08/07/this-is-it/</link>
		<comments>http://tamansari.wordpress.com/2008/08/07/this-is-it/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Aug 2008 08:28:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tamansari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Life Journal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tamansari.wordpress.com/?p=159</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini aku menginjakkan kaki di tempat terhormat ini lagi. Mungkin untuk yang terakhir kali, mungkin juga tidak. Tapi yang jelas aku tak akan mengunjunginya tiap hari lagi. Tiba juga saatnya untuk berpamitan. Pada meja panjang tempatku biasa menaruh barang-barang dan meletakkan laptopku. Meja yang kubagi dua dengan Cak Anis, editorku. Cak Anis bilang dalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tamansari.wordpress.com&blog=1418374&post=159&subd=tamansari&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;">Hari ini aku menginjakkan kaki di tempat terhormat ini lagi. Mungkin untuk yang terakhir kali, mungkin juga tidak. Tapi yang jelas aku tak akan mengunjunginya tiap hari lagi. Tiba juga saatnya untuk berpamitan. Pada meja panjang tempatku biasa menaruh barang-barang dan meletakkan laptopku. Meja yang kubagi dua dengan Cak Anis, editorku. Cak Anis bilang dalam emailnya ketika aku di Amrik, kangen juga gak ada yang suka ketawa-ketiwi sendiri di depan laptop. Haha..ya aku memang sering cekikikan sendiri ketika kawan chatting ku menuliskan kalimat-kalimat lucu.</p>
<p style="text-align:justify;">Saatnya mengucapkan terima kasih kepada para bos dan rekan-rekan kerja, orang-orang se-Istana Presiden yang selama ini bekerjasama mempermudah maupun mempersulit pekerjaanku. Teman-teman wartawan istana yang lucu-lucu dan selalu membuatku rindu dengan kegilaan-kegilaannya. Mereka tak akan menjadi bagian dari hari-hariku lagi.</p>
<p style="text-align:justify;">Time to move on,dan meninggalkan semuanya sebagai bagian dari kisah masa lalu. Haru, perasaanku campur aduk. Inilah waktu terlama aku berada di sebuah kantor. Begitu banyak yang terjadi, suka duka, senang susah, tawa airmata, makian dan teriakan senang, semua terekam dengan baik, dan kusimpan di sudut hati.</p>
<p style="text-align:justify;">Ini posting terakhir yang kuketik dengan Fujitsu Lifebook Series ini. Hari ini aku bersihkan semua data pribadiku dari gudangnya dan akan berpindah ke rumah baru nya nanti. Bebenah dan berkemas selalu menorehkan segurat lara di hati. Berpisah dengan sesuatu yang telah bersama sekian lama tentulah berat. Fujitsu tercinta ini telah menemaniku merambah berbagai belahan bumi. Dialah yang terakhir bersamaku menyambangi 5 kota di Amerika selama 3 minggu. Fujitsu ini baik, tak pernah rewel, awet dan tahan banting meskipun aku sering membawanya tidak dalam kondisi yang mapan.</p>
<p style="text-align:justify;">Makan siang terakhir di kafetaria Sekneg kunikmati bersama lelaki tercintaku. Tak akan lagi aku menikmati siang yang terik disitu bersamanya, menyantap rawon dan sebotol teh. Ya, aku akan merindukannya tentu. Seperti juga ruangan pengap tak berjendela yang telah menjadi ruang kerjaku bertahun terakhir ini, akan segera kutinggalkan.  Tangga Bina Graha yang lepek itupun tak akan kuinjak lagi. Paspampres yang menjaga pintu masuk pun tak akan kutemui lagi.</p>
<p style="text-align:justify;">Sssshhhh&#8230;kenapa mendadak semuanya menjadi indah di ingatan. Tapi keputusan sudah dibuat, dan aku menginginkannya dengan sadar. Bahwa hidup harus terus berjalan, saatnya membuka lembaran baru dan menorehkan kisahnya sendiri. Tak ada yang sia-sia, semua telah menjadi bagian tak terpisahkan dari keseluruhan cerita. Pelajaran dan pengalaman yang sangat berharga untuk menjadi manusia yang lebih baik.</p>
<p style="text-align:justify;">Terima kasih, saatnya melangkah ke dunia baru..</p>
<p style="text-align:justify;">
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tamansari.wordpress.com/159/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tamansari.wordpress.com/159/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tamansari.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tamansari.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tamansari.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tamansari.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tamansari.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tamansari.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tamansari.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tamansari.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tamansari.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tamansari.wordpress.com/159/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tamansari.wordpress.com&blog=1418374&post=159&subd=tamansari&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tamansari.wordpress.com/2008/08/07/this-is-it/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/10b7eae70f202d5a70cb164b33617fa5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tamansari</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>